Tantangan Pendidikan Jatim: Akses, Kualitas Guru, dan Kesiapan Generasi Digital
- account_circle Teguh Priyono
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM– Pendidikan di Jawa Timur menghadapi tantangan serius yang perlu segera diatasi. Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKS, Puguh Wiji Pamungkas, menyoroti tiga isu utama: pemerataan akses pendidikan, kualitas guru, dan kesiapan generasi digital.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur 2025 mencatat bahwa jumlah anak usia sekolah di provinsi ini mencapai sekitar 8,9 juta jiwa, mencakup jenjang PAUD hingga SMA/SMK.
Jumlah ini menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan populasi anak usia sekolah terbesar kedua di Indonesia, sekaligus memunculkan tantangan tersendiri dalam menjamin pendidikan berkualitas.
“Jawa Timur memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi unggul, namun masalah akses, kualitas guru, dan kesiapan digital harus menjadi fokus utama,” ujar Puguh, Anggota Komisi E DPRD Jatim.
Akses Pendidikan Masih Tidak Merata
Puguh menyoroti kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan infrastruktur sekolah, distribusi guru yang tidak merata, hingga minimnya akses teknologi pembelajaran.
“Pemerataan pendidikan harus menjadi prioritas. Anggaran dan kebijakan Pemprov Jatim perlu difokuskan pada wilayah-wilayah yang tertinggal,” tegasnya.
Kualitas Guru Masih Menjadi Tantangan
Selain akses, Puguh menekankan bahwa kompetensi dan kesejahteraan guru menjadi faktor penentu kualitas pendidikan.
Jawa Timur memiliki sekitar 590 ribu guru, tetapi masih banyak yang menghadapi kendala dalam kompetensi profesional maupun penghasilan yang layak.
“Guru yang sejahtera dan kompeten akan mampu memberikan pembelajaran berkualitas, sehingga anak-anak bisa berkembang maksimal,” kata Puguh.
Kesiapan Generasi Digital
Di era digital, integrasi teknologi dalam pendidikan menjadi hal yang tak bisa ditawar.
Anak-anak saat ini merupakan generasi native digital, sehingga kurikulum harus menekankan keterampilan abad ke-21, termasuk berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
Selain itu, Puguh menekankan pentingnya pendidikan vokasi dan keterkaitannya dengan dunia industri agar lulusan SMA/SMK siap bekerja dan mampu bersaing di pasar kerja.
“Link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri harus diperkuat. Ini bagian dari strategi untuk menyiapkan generasi muda yang kompeten dan adaptif,” tegasnya.
Puguh juga menekankan bahwa pendidikan harus berakar pada nilai karakter dan budaya lokal, seperti gotong royong, etos kerja, dan toleransi, agar anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
“Pendidikan berkualitas yang merata, dengan guru kompeten dan generasi digital siap, menjadi kunci keberhasilan Jawa Timur menghadapi tantangan global,” pungkas Puguh.(DK/yud)
- Penulis: Teguh Priyono

>
>
>