Perubahan Mencolok di Pantai Tlangoh: Dari Abasi ke Harapan Baru
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 26 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pantai Tlangoh di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, kini menjadi contoh sukses dalam upaya mengatasi abrasi dan memulihkan ekosistem pesisir. Sebelumnya, pantai ini menghadapi ancaman serius akibat erosi yang terjadi secara cepat, membuat garis pantai semakin menyempit. Sampah menumpuk di sepanjang bibir pantai, sementara masyarakat yang bergantung pada laut mulai merasa putus asa.
Namun, perlahan namun pasti, situasi berubah. Upaya untuk memulihkan kawasan pesisir dimulai dengan inovasi teknologi lingkungan yang dikenal sebagai hexa reef. Struktur buatan berbentuk heksagonal ini ditanam di dasar laut untuk memperlambat arus dan mengurangi dampak gelombang yang menggerus daratan.
Teknologi Hexa Reef: Solusi dari Dasar Laut
Hexa reef adalah solusi inovatif yang dirancang untuk mengurangi kerusakan pantai tanpa mengganggu ekosistem laut. Berbeda dengan pemecah gelombang konvensional yang dibangun di tepi pantai, hexa reef bekerja dari bawah permukaan air. Struktur ini tidak hanya melindungi garis pantai tetapi juga membantu memperkuat ketersediaan pasir di wilayah pesisir.
Penggunaan hexa reef di Pantai Tlangoh dimulai pada 2023. Hingga saat ini, sekitar 390 ton struktur tersebut telah dipasang di perairan sekitar pantai. Hasilnya signifikan: penelitian terbaru menunjukkan bahwa sedimen mulai menumpuk di beberapa bagian pantai, sehingga memperlebar garis pantai hingga lima meter.
Keterlibatan Warga dalam Pemulihan Lingkungan
Perubahan ini tidak hanya terlihat dari segi fisik, tetapi juga dari perubahan sosial di masyarakat. Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul Hidayat, mengatakan bahwa kesadaran warga mulai tumbuh. Mereka mulai melihat pantai sebagai sumber penghidupan, bukan tempat pembuangan sampah.
Untuk memperkuat perubahan ini, Kudrotul membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) Tlangoh. Warga terlibat langsung dalam menjaga dan mengelola kawasan pantai yang kembali pulih. Hal ini menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Pengembangan Ekonomi Lokal Melalui Wisata
Pulihnya pantai Tlangoh juga memberikan peluang baru bagi masyarakat setempat. Berbagai usaha mikro mulai berkembang, seperti warung kecil, lahan parkir, dan aktivitas pariwisata lainnya. Saat ini, sekitar 40 pelaku UMKM aktif menjalankan bisnis di kawasan wisata tersebut.
Bagi sebagian warga, kebangkitan pantai ini menjadi alasan untuk kembali pulang. Beberapa mantan pekerja migran Indonesia memilih tidak kembali merantau dan membangun usaha di kampung halaman. Tujuh di antaranya kini aktif mengelola kawasan wisata sebagai anggota Pokdarwis Tlangoh.
Komentar dari Pelaku Program
General Manager Zona 11 PHE WMO, Zulfikar Akbar, menekankan bahwa program lingkungan seperti ini tidak akan berhasil tanpa partisipasi warga. Ia menyebut mereka sebagai “pahlawan tanpa jubah dan topeng dari Tlangoh”.
Menurut Zulfikar, program ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan bersamaan. “Tanpa keterlibatan warga, program ini tidak akan berhasil,” ujarnya.
Kesimpulan: Harmoni Antara Alam dan Manusia
Di Pantai Pasir Putih Tlangoh, hexa reef kini tidak hanya berfungsi sebagai benteng dari abrasi. Struktur itu menjadi simbol perubahan, tempat laut dan darat kembali berdamai. Warga memilih bertahan, menjaga, dan membangun harapan dari kampung halamannya sendiri.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, masalah lingkungan dapat diatasi, sekaligus memberikan dampak positif pada masyarakat lokal. Tlangoh menjadi contoh nyata bahwa keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi bisa saling mendukung. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar