DIAGRAMKOTA.COM – KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin membuka kanal khusus bernama “Titip Gagasan” dan menjaring suara langsung dari seluruh lapisan warga Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke‑35 NU tahun 2026. Ia tidak hanya mendengarkan tokoh‑tokoh di tingkat pusat, melainkan juga mengumpulkan harapan, kritik, dan usulan nyata yang datang dari ranting, wilayah terpencil, kader muda, pesantren, hingga pelaku ruang digital di seluruh penjuru negeri.
Puluhan pesan terus mengalir masuk hingga batas waktu 27 Agustus 2026. Pengirimnya berasal dari beragam latar: pengurus di berbagai tingkatan, anggota badan otonom, santri, hingga masyarakat umum yang merasa bagian dari keluarga besar NU. Sebagian besar orang menyampaikan bukan sekadar dukungan pencalonan—mereka justru menyuarakan apa yang benar‑benar mereka rasakan dan butuhkan. “Saya membuka jalan ini agar saya benar‑benar mendengar dan mencatat suara jamaah secara langsung dari beragam lapisan masyarakat,” tegas Gus Rozin.
Seorang warga NU dari Grobogan menyampaikan keluhan yang paling sering muncul: pengurus tingkat atas jarang menjangkau ranting dan anak ranting, padahal merekalah yang menjadi tulang punggung organisasi setiap hari. “Pengurus baru datang saat reorganisasi. Setelah selesai, hubungan kembali terputus dan urusan di bawah tak tersentuh,” tulisnya jujur.
Pengurus dari Serang, Banten, memohon agar PBNU ke depan benar‑benar memusatkan perhatian dan membimbing langsung struktur MWCNU ke bawah—karena di tingkatan inilah pengurus bersentuhan langsung dengan warga setiap hari. Ia bahkan mengusulkan agar PBNU membentuk tim pendamping khusus yang senantiasa memantau, melatih, dan menguatkan pengurus lapangan, bukan sekadar mengirim surat perintah.
Dari Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara, suara lain terdengar lantang. Pengurus setempat menyadari perbedaan sejarah, budaya, dan irama perkembangan NU yang masih terasa jauh dibandingkan di Jawa. “Masih banyak—bahkan di kalangan pengurus—yang beranggapan NU hanya bisa tumbuh subur di Jawa saja. Anggapan ini harus kita hapus dan kita buktikan salah,” serunya. Ia meminta kebijakan serta terobosan baru agar NU tumbuh berakar kuat dan berkembang merata di seluruh wilayah nusantara. Hal ini sangat selaras dengan gagasan yang terus disampaikan Gus Rozin selama ia berkeliling.
Kader muda dan perempuan pun ikut menyampaikan impian mereka. Dari Gresik, seorang anggota Fatayat NU mengajak organisasi membangun semacam “Ekosistem Kader Muda NU”: ruang luas di mana santri dan mahasiswa bisa belajar, meneliti, merancang gagasan, berwirausaha, dan ikut mencari jalan keluar atas persoalan masyarakat. “Jangan jadikan kami sekadar objek pelatihan. Berikan kami tempat untuk berkarya, berpikir, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tulisnya. Mereka juga berharap pesantren berkembang tak hanya sebagai tempat belajar agama, melainkan menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, perekonomian, dan pemberdayaan manusia yang utuh.
Seorang anggota IPNU dari Sidoarjo mengusulkan agar lembaga pendidikan seperti LP Ma’arif dan pesantren mulai berani memasukkan sains, teknologi, hingga kecerdasan buatan ke dalam kurikulum—supaya santri menguasai zaman tanpa pernah kehilangan jati diri dan tradisi luhur mereka. Sementara dari Brebes, penggiat media sosial menyoroti celah yang makin terasa: banyak tokoh dan pegiat NU yang sudah sangat berpengaruh secara daring, namun organisasi belum merangkul dan menyatukan kekuatan mereka. “Kita sedang berjuang membentuk pandangan masyarakat di ruang maya, tapi kekuatan besar ini kita biarkan berjalan sendiri tanpa wadah dan dukungan organisasi,” tandasnya.
Dari Cimahi, pengurus NU menekankan dua hal penting: kita harus mengelola dan memajukan potensi ekonomi jamaah secara sungguh‑sungguh dan profesional, serta senantiasa menjaga kemandirian organisasi. “Setiap hubungan yang kita jalin dengan pemerintah maupun pihak politik harus semata‑mata untuk kemaslahatan bersama—dan tidak boleh sedikit pun merusak prinsip serta jati diri NU,” pesannya. Hal ini sejalan dengan pendirian Gus Rozin: kita boleh bekerja sama dengan siapa saja, namun NU harus tetap bebas memegang kendali dan menentukan sikanya sendiri.
Seluruh masukan ini membuktikan bahwa masa depan Nahdlatul Ulama bukan sekadar urusan orang‑orang yang duduk di ruang rapat pusat. Orang‑orang dari tingkat paling bawah berbicara, mereka yang jauh dari pulau utama berharap diperhatikan, generasi muda ingin ikut membangun, dan para pengelola pesantren serta jamaah berusaha beradaptasi menghadapi zaman yang terus berubah. Kanal “Titip Gagasan” memang Gus Rozin buka dalam rangka pencalonannya, namun isi yang terkumpul menyuarakan harapan yang jauh lebih besar: membangun NU yang senantiasa mendengarkan, selalu berpijak di kebutuhan rakyat, dan menyatukan kekuatan dari seluruh penjuru negeri.
“Memang belum bisa kita jadikan ukuran mutlak kehendak seluruh jamaah,” demikian pesan tersirat dari kanal ini, “namun begitu beragamnya suara yang terus masuk memperlihatkan satu kenyataan jelas—dan suara‑suara itu kini sudah tertulis, tersampaikan, dan dititipkan kepada kita semua.”(dk/yud)






















