Akselerasi Layanan Gawat Darurat: Pemkot Integrasikan Jaringan 69 Rumah Sakit ke Sistem Satu Data Kesehatan Surabaya

Ringkasan Berita: Sistem penanganan medis darurat di Kota Surabaya membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang komprehensif guna memastikan percepatan layanan. Mengatasi hal ini, Pemkot Surabaya mengintegrasikan platform Satu Data Kesehatan Surabaya ke seluruh jaringan rumah sakit di kota untuk mempercepat sistem rujukan pasien secara real-time.

DIAGRAMKOTA.COMPemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah strategis dalam mengoptimalkan manajemen kedaruratan medis di seluruh wilayah kota. Mengingat tingginya mobilitas dan kebutuhan penanganan klinis warga, sistem pelayanan kesehatan tidak bisa lagi bertumpu hanya pada fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah.

Langkah ini diambil guna memotong rantai birokrasi rujukan yang kerap memakan waktu, sehingga penanganan pasien gawat darurat dapat dilakukan secara lebih cepat, merata, dan tepat sasaran di fasilitas medis terdekat.

“Kegawatdaruratan tidak mungkin hanya ditangani tiga rumah sakit milik Pemkot Surabaya. Karena itu, keterlibatan seluruh rumah sakit menjadi sangat penting agar layanan bisa berjalan lebih cepat dan merata,” terangnya.

Digitalisasi Layanan: Sistem Satu Data Kesehatan Diperluas Lintas Sektor

Sebagai fondasi utama transformasi digital ini, sistem Satu Data Kesehatan Surabaya kini diintegrasikan secara masif. Platform ini awalnya telah diimplementasikan dengan sukses di tiga rumah sakit plat merah milik Pemkot Surabaya, yaitu:

  1. RSUD dr. Soewandhie

  2. RS Bhakti Dharma Husada (BDH)

  3. RSUD Eka Candrarini

Ke depan, cakupan digitalisasi tata kelola medis ini dipastikan meluas dan wajib terintegrasi dengan seluruh ekosistem rumah sakit yang beroperasi di wilayah Surabaya. Berdasarkan data terkini, terdapat total 69 rumah sakit yang aktif melayani masyarakat di Kota Pahlawan, yang terdiri dari 68 rumah sakit darat dan satu rumah sakit terapung.

Sistem Manajemen Rujukan Real-Time untuk Pangkas Hambatan Medis

Integrasi menyeluruh ini dirancang untuk menyelesaikan kendala klasik penolakan pasien akibat ruang perawatan penuh atau keterbatasan alat medis di rumah sakit rujukan. Melalui sinkronisasi data terpusat, alur informasi antarfasilitas kesehatan kini berpindah dalam hitungan detik.

“Melalui sistem ini, petugas dapat mengetahui kapasitas dan ketersediaan layanan rumah sakit secara real time sehingga proses rujukan menjadi lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi,” pungkasnya.

Dengan sistem pemantauan ketersediaan tempat tidur (bed occupancy rate), ketersediaan dokter spesialis, hingga fasilitas ICU yang transparan, petugas medis darurat di lapangan dapat langsung mengarahkan pasien ke rumah sakit yang paling siap melakukan tindakan penyelamatan nyawa.***