USD IDR Terancam Depresiasi Akibat Tekanan Global dan Kenaikan Harga Minyak
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – USD IDR? Nilai tukar rupiah menghadapi tantangan signifikan akibat tekanan dari berbagai faktor eksternal, termasuk lonjakan harga minyak mentah dunia dan ketidakstabilan geopolitik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan depresiasi yang lebih dalam, terutama jika kondisi tersebut tidak segera diatasi.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Rupiah telah mengalami penurunan sebesar 1,51 persen secara tahun kalender berjalan hingga Senin (9/3/2026), dengan nilai tukar mencapai Rp 16.974 per dolar AS. Menurut Awalil Rizky dari Bright Institute, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dua aspek utama: fundamental dan teknikal.
Aspek Fundamental:
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2025 berbalik defisit setelah sebelumnya mencatatkan surplus selama enam tahun berturut-turut. Defisit NPI tercatat sebesar 2,3 miliar dolar AS, yang menunjukkan bahwa arus keluar modal lebih besar daripada masuk. Selain itu, arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik mencapai Rp 125,1 triliun sepanjang 2025, yang memperkuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Aspek Teknikal:
Sentimen negatif yang berkepanjangan dapat memperparah fluktuasi kurs. Jika isu negatif terus muncul, rupiah bisa melemah secara mendadak, bukan hanya secara bertahap. Ini meningkatkan risiko “crash” atau depresiasi drastis dalam waktu singkat.
Dampak Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak mentah Brent, yang sempat menyentuh 114 dolar AS per barel, menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga minyak juga berdampak pada inflasi melalui kenaikan biaya logistik, distribusi pangan, dan produksi industri. Selain itu, impor minyak yang meningkat meningkatkan kebutuhan valuta asing, khususnya dolar AS, untuk membayar impor tersebut.
Menurut Jahen Fachrul Rezki dari LPEM FEB UI, lonjakan harga minyak juga berpotensi memperbesar defisit neraca transaksi berjalan. Pada 2025, defisit neraca transaksi berjalan mencapai 1,5 miliar dolar AS, atau 0,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Tantangan Pemerintah dalam Pengelolaan Anggaran
Pemerintah kini menghadapi dilema antara mempertahankan subsidi energi atau menyesuaikan harga BBM yang berisiko meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan penyesuaian harga BBM bersubsidi jika harga minyak dunia terus meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
Asumsi rata-rata harga minyak dalam APBN 2026 adalah 70 dolar AS per barel. Namun, jika harga minyak naik hingga rata-rata 92 dolar AS per barel sepanjang tahun, defisit APBN bisa meningkat hingga 3,6 persen – 3,7 persen. Untuk menghindari hal ini, pemerintah siap melakukan efisiensi belanja negara atau penghematan anggaran lainnya.
Strategi Mitigasi Risiko
Awalil Rizky menekankan pentingnya memperkuat ketahanan eksternal melalui pengelolaan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih disiplin. Tanpa langkah-langkah ini, operasi pasar oleh Bank Indonesia (BI) akan semakin menguras cadangan devisa. Per Februari 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, turun 2,7 miliar dolar AS dibanding bulan sebelumnya.
Pengalaman Masa Lalu dan Persiapan Kondisi Darurat
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah memiliki pengalaman menghadapi kenaikan harga minyak yang sangat tinggi, seperti saat harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel. Jika anggaran tidak cukup, pemerintah siap “share” beban kepada masyarakat melalui kenaikan harga BBM.
Meskipun belum menjelaskan detail level harga minyak yang akan memicu kenaikan harga BBM, Purbaya menyatakan bahwa Kementerian Keuangan telah menyelesaikan simulasi dan akan segera membagikan hasilnya kepada awak media.
Kombinasi antara tekanan global, kenaikan harga minyak, dan ketidakstabilan ekonomi domestik membuat rupiah rentan mengalami depresiasi lebih dalam. Pemerintah harus segera mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan eksternal dan mengelola anggaran secara lebih efisien agar risiko crash nilai tukar dapat diminimalkan.

>
>
>

Saat ini belum ada komentar