Ruud Gullit Kritik Pedas Legenda Sepak Bola terhadap Pertandingan Arsenal vs Chelsea
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 15 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Sebuah pertandingan antara Arsenal dan Chelsea dalam pekan ke-28 Premier League 2025/2026 menarik perhatian publik, bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena kritik tajam yang datang dari legenda sepak bola asal Belanda, Ruud Gullit. Meski Arsenal berhasil mengalahkan Chelsea dengan skor 2-1, Gullit merasa bahwa pertandingan tersebut justru menjadi contoh buruk dari perkembangan sepak bola modern.
Pertandingan yang berlangsung di Emirates Stadium pada hari Minggu (1 Maret 2026) memang memiliki tensi tinggi, mengingat kedua klub merupakan rival besar di London. Namun bagi Gullit, pertandingan ini tidak mampu memberikan hiburan yang seharusnya ada dalam olahraga ini. Ia menyebut pertandingan tersebut sebagai “sepak bola sampah” dan bahkan mengaku telah memutuskan untuk berhenti menonton sepak bola karena merasa tidak lagi menikmatinya.
Gol dari Situasi Bola Mati
Seluruh gol dalam pertandingan tersebut lahir dari situasi bola mati. Arsenal mencetak dua gol melalui William Saliba dan Jurrien Timber, sementara satu gol Chelsea berasal dari bunuh diri Piero Hincapie. Menurut Gullit, hal ini menunjukkan bagaimana permainan sepak bola saat ini terlalu fokus pada strategi set-piece, sehingga membuat pertandingan menjadi monoton dan kurang kreatif.
“Saya melihat para pemain mencoba menciptakan tendangan sudut, mencoba menciptakan lemparan ke dalam, saya melihat anak-anak gawang siap memberikan handuk kepada para pemain. Sepak bola telah menjadi sangat buruk,” ujarnya dalam wawancara dengan Ziggo Sport’s Rondo show.
Perubahan Gaya Bermain yang Mengkhawatirkan
Gullit juga menyampaikan kekecewaannya terhadap perubahan gaya bermain sepak bola modern. Ia merasa bahwa banyak pemain sekarang terlalu terpaku pada sistem dan tugas taktis, sehingga jarang mengambil risiko untuk melakukan aksi individu. Menurutnya, hal ini membuat permainan kehilangan unsur kegembiraan dan kreativitas.
Ia pun merindukan tipe pemain seperti Lamine Yamal, yang dikenal dengan kemampuan individualnya dan kemampuan untuk menghibur penonton. “Saya menunggu pemain yang akan kembali menghadapi para bek, seseorang seperti Lamine Yamal. Saya merindukan kegembiraan itu!” katanya.
Kehilangan Minat terhadap Sepak Bola
Dalam pandangannya, sepak bola modern terlalu terfokus pada hasil akhir dan gelar juara, bukan pada seni dan keindahan permainan. Gullit menyatakan bahwa ia tidak lagi menikmati olahraga ini dan merasa bahwa arah perkembangan sepak bola saat ini tidak sesuai dengan harapan.
“Semua orang menjalankan tugas di lapangan. Di mana para pemain yang menggiring bola? Di mana para pemain yang menguasai bola? Mengapa semua orang mengoper? Mengoper! Mengoper! Mengoper!” keluhnya.
Kritik terhadap Perkembangan Sepak Bola Modern
Gullit juga menyoroti bagaimana tren sepak bola modern cenderung mengabaikan kebebasan individu para pemain. Ia percaya bahwa permainan yang lebih kreatif dan dinamis akan lebih menghibur bagi para penggemar. Namun, saat ini, sepak bola terlihat lebih seperti kompetisi yang dipenuhi oleh aturan dan taktik, bukan seni.
Menurutnya, para pemain sekarang lebih tertekan untuk mematuhi instruksi pelatih daripada mengeksplorasi bakat mereka sendiri. Hal ini membuat permainan terasa membosankan dan kurang menarik.
Reaksi Publik terhadap Kritik Gullit
Kritik Gullit ini mendapat respons beragam dari publik. Beberapa fans sepak bola setuju dengan pendapatnya, sementara yang lain merasa bahwa fokus pada hasil akhir adalah hal yang wajar dalam kompetisi profesional. Namun, apa pun pendapatnya, kritik ini menunjukkan bahwa sepak bola modern sedang menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara taktik dan seni permainan.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar