DPRD Surabaya: Pemenuhan THR sebagai Kewajiban dan Tantangan bagi Pengusaha
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi isu penting menjelang perayaan Idulfitri. Di tengah situasi ekonomi yang dinamis, kewajiban ini tidak hanya menjadi hak pekerja, tetapi juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha, terutama pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
Peran DPRD dalam Memastikan Hak Pekerja
Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono, menggarisbawahi pentingnya pembayaran THR sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan. Ia menegaskan bahwa THR bukan sekadar kebijakan, melainkan hak dasar yang harus dipenuhi sesuai regulasi yang berlaku.
“THR itu hak pekerja dan harus dibayarkan. Tapi bagi pengusaha kecil yang kondisi usahanya pas-pasan, kadang harus menghitung betul pengeluarannya karena berbarengan dengan gaji dan kebutuhan lain menjelang Lebaran,” ujar Budi Leksono, yang akrab disapa Buleks.
Tantangan Finansial di Momen Lebaran
Menjelang Lebaran, perusahaan sering kali menghadapi beban finansial yang berlipat. Selain THR, ada pula pengeluaran untuk gaji bulanan, biaya operasional, serta persiapan libur panjang. Hal ini membuat sebagian pengusaha kesulitan dalam memenuhi kewajiban tersebut tanpa mengganggu kelangsungan usaha.
Buleks menilai bahwa perencanaan keuangan yang matang sangat penting untuk menghadapi momen ini. Ia menyarankan pengusaha agar memiliki tabungan khusus untuk kebutuhan seperti THR dan keperluan Lebaran lainnya.
Perhatian kepada Karyawan di Luar THR
Selain THR, Buleks menekankan bahwa perhatian kepada karyawan bisa dilakukan melalui bentuk-bentuk lain. Misalnya, bingkisan atau dukungan tambahan untuk keluarga pekerja. Menurutnya, hal ini bisa mencerminkan kepedulian pengusaha terhadap karyawannya.
“Kalau kita punya perencanaan dan tabungan, biasanya lebih siap menghadapi momen Lebaran. THR tetap diberikan, tapi kita juga bisa menyiapkan perhatian lain untuk karyawan,” jelas Buleks.
Dinamika Konsumsi Masyarakat Selama Ramadan
Di sisi lain, aktivitas masyarakat selama Ramadan juga turut memengaruhi pola bisnis. Pada 10 hari pertama Ramadan, masjid penuh dengan jemaah. Namun, setelah itu, banyak orang mulai beralih ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan Lebaran.
Buleks menyebut bahwa hal ini menjadi indikator bahwa THR mulai digunakan oleh pekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Oleh karena itu, ia berharap pengusaha dapat memperhatikan kebutuhan karyawan secara holistik.
Pentingnya Komunikasi antara Pengusaha dan Pekerja
Buleks menekankan bahwa hubungan baik antara pengusaha dan pekerja adalah kunci untuk memastikan kewajiban THR dapat dipenuhi tanpa mengganggu stabilitas usaha. Ia berharap komunikasi yang terbuka dapat membantu menghindari konflik dan membangun kepercayaan.
THR tidak hanya menjadi kewajiban hukum, tetapi juga cerminan dari tanggung jawab sosial pengusaha. Meski tantangannya nyata, dengan perencanaan yang matang dan komunikasi yang baik, pengusaha dapat memenuhi kewajiban tersebut tanpa merugikan kelangsungan bisnis. Dengan demikian, hubungan antara pengusaha dan pekerja tetap terjaga, serta suasana Lebaran bisa dirayakan dengan harmonis.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar