Bukan Mengusir! Penataan Balai Pemuda Surabaya: Kebijakan yang Menjaga Tradisi Seni Kota Pahlawan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Beberapa anak muda sedang berburu koin Jagat di Balai Pemuda (foto:Topan)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Balai Pemuda Surabaya, yang menjadi pusat pengembangan seni dan budaya, kini mengalami perubahan dalam regulasi penggunaannya. Kebijakan ini menimbulkan berbagai reaksi dari kalangan seniman dan masyarakat luas. Namun, pemerintah kota melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) menegaskan bahwa penataan ini tidak bertujuan untuk mengusir seniman, tetapi justru untuk memastikan keberlanjutan dan pengelolaan yang lebih baik.
Tujuan Penataan Regulasi Penggunaan Balai Pemuda
Plt. Kepala Disbudporapar Kota Surabaya, Hery Purwadi, menjelaskan bahwa surat edaran terkait pengosongan tempat kesenian di Balai Pemuda bukanlah langkah untuk mengusir seniman. Sebaliknya, tujuannya adalah untuk menata kembali penggunaan ruang tersebut agar lebih terstruktur dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua pihak.
“Kami ingin memiliki regulasi yang jelas, sehingga penggunaan Balai Pemuda bisa lebih efektif dan adil,” ujar Hery. “Pemkot Surabaya tetap berkomitmen untuk menjadikan Balai Pemuda sebagai pusat pengembangan seni dan budaya.”
Pentingnya Komunikasi dengan Para Seniman
Hery menekankan bahwa komunikasi antara pemerintah dan para seniman sangat penting dalam proses penataan ini. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah membuka forum diskusi bersama lembaga kesenian dan seniman di Surabaya. Salah satu contohnya adalah Musyawarah Kebudayaan yang digelar pada 14 Februari 2026 di Balai Pemuda.
“Dalam forum tersebut, kami mendengarkan masukan dan aspirasi para seniman. Ini menjadi dasar bagi kami dalam merancang kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tambahnya.
Keterlibatan Lembaga Kesenian di Kota Surabaya
Pemkot Surabaya juga menegaskan bahwa semua lembaga kesenian yang ada di kota ini akan tetap diberi ruang untuk berkarya. Hery menekankan bahwa pemerintah tidak pernah mengabaikan peran seniman dalam memajukan budaya lokal.
“Kita harus saling bekerja sama. Tanpa seniman, pemerintah tidak bisa menciptakan kebudayaan yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Masa Depan Balai Pemuda yang Lebih Baik
Hery berharap agar pemerintah dan seniman dapat duduk bersama untuk mencari solusi terbaik dalam pengelolaan Balai Pemuda. Ia yakin bahwa kecintaan para seniman terhadap seni dan budaya akan menjadi landasan untuk pembangunan yang lebih baik.
“Tujuan kita sama, yaitu memajukan seni-budaya di Surabaya. Kita harus bersinergi dan berkomunikasi dengan baik agar bisa mencapai hasil yang maksimal,” tutupnya.
Penataan regulasi penggunaan Balai Pemuda Surabaya bukanlah tindakan yang bertujuan mengusir seniman, melainkan upaya untuk memastikan keberlanjutan dan pengelolaan yang lebih baik. Dengan komunikasi yang terbuka dan kolaborasi yang kuat, pemerintah dan seniman di Surabaya dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya seni dan budaya kota.***

>
>
>
>
Saat ini belum ada komentar