Warisan Kuliner Ponorogo yang Bertahan Selama Lima Generasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Serabi Kerun Ayu di Ponorogo tidak hanya menjadi hidangan tradisional, tetapi juga simbol keberlanjutan budaya dan penghargaan terhadap resep turun-temurun. Dengan aroma kayu bakar yang khas dan rasa gurih yang konsisten, makanan ini telah bertahan selama lima generasi, mengukir sejarah lewat setiap suapan.
Tradisi yang Diwariskan Secara Turun-Temurun
Pembuatan Serabi Kerun Ayu dilakukan dengan cara tradisional, menggunakan bahan-bahan alami seperti tepung beras, santan kelapa, garam, dan air hangat. Proses pematangan adonan dilakukan di atas wajan tanah liat dengan tungku kayu bakar. Hal ini memengaruhi cita rasa dan aroma khas dari kue tradisional ini.
Endang Tatik, generasi kelima yang menjual Serabi Kerun Ayu, menjelaskan bahwa resep dan teknik pembuatan tetap dipertahankan sejak nenek moyang mereka. “Kita tetap mempertahankan bahan dan cara pembuatan dari resep pendahulu kita. Cara masaknya juga sama dengan menggunakan tungku dan kayu bakar karena ini mempengaruhi cita rasa maupun aromanya,” ujarnya.
Proses Produksi yang Memakan Waktu
Setiap hari, Endang dan keluarganya mempersiapkan adonan serabi yang siap dibuat. Proses ini dimulai dengan mencampurkan bahan-bahan hingga membentuk adonan yang kental. Adonan kemudian dituangkan ke dalam wajan tanah liat yang sudah dipanaskan oleh api kayu bakar. Setelah itu, adonan dibiarkan matang hingga berwarna kecokelatan dan memiliki tekstur yang lembut serta gurih.
Seluruh proses ini membutuhkan ketelitian dan pengalaman, karena waktu pematangan sangat sensitif terhadap panas. Jika terlalu lama, adonan akan menjadi keras, sedangkan jika terlalu cepat, akan masih basah. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi oleh para pengrajin serabi untuk menjaga kualitas produk.
Keunikan Rasa dan Aroma
Aroma kayu bakar yang menyelimuti adonan serabi memberikan sensasi khas yang sulit ditemukan pada metode produksi modern. Rasa gurih dari santan kelapa dan tekstur lembut dari tepung beras membuat Serabi Kerun Ayu menjadi hidangan yang disukai oleh banyak orang, baik lokal maupun wisatawan.
Endang mengaku bahwa meskipun ada perubahan di luar, ia tetap berpegang pada prinsip dasar dari resep nenek moyangnya. “Saya ingin agar generasi mendatang tetap bisa merasakan cita rasa asli dari Serabi Kerun Ayu,” katanya.
Tantangan dalam Era Modern
Meski demikian, Endang mengakui bahwa menjaga tradisi ini bukanlah hal mudah. Banyak pengrajin lain yang beralih ke metode produksi modern untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Namun, ia tetap percaya bahwa konsistensi dalam rasa dan aroma adalah nilai utama yang harus dipertahankan.
Dalam era digital dan perubahan gaya hidup, Serabi Kerun Ayu tetap menjadi salah satu ikon kuliner Ponorogo yang menunjukkan betapa pentingnya melestarikan warisan budaya. Dengan tekad kuat dan dedikasi tinggi, Endang dan keluarganya terus melanjutkan tradisi ini, mengajarkan kepada generasi muda bahwa warisan leluhur memiliki nilai yang tak ternilai.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar