Peran Simulasi TKA dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak dirancang sebagai alat untuk menilai kinerja guru atau memperingkatkan sekolah. Sebaliknya, TKA bertujuan sebagai instrumen pemetaan capaian belajar siswa yang akan digunakan sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan. Dengan demikian, data yang dihasilkan dari TKA menjadi dasar perbaikan kurikulum dan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG), Nunuk Suryani, menekankan bahwa TKA bukan hanya alat penilaian, tetapi juga bagian dari strategi pemerintah untuk membangun budaya refleksi dalam sistem pendidikan. Ia menjelaskan bahwa TKA tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai langkah kolektif untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
“Kita ingin membangun budaya refleksi, bukan saling menyalahkan. Data yang dihasilkan akan menjadi dasar perbaikan pembelajaran dan penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” ujar Nunuk.
Selain itu, ia menyoroti bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan sekitar, dukungan keluarga, serta kesinambungan antarjenjang pembelajaran. Oleh karena itu, TKA harus dilihat sebagai alat untuk memperkuat kualitas pembelajaran secara menyeluruh.
Fokus pada Literasi, Numerasi, dan Berpikir Kritis
Nunuk juga menyarankan agar guru lebih fokus pada penguatan literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis murid. Hal ini menjadi inti dari persiapan TKA dan pengembangan pembelajaran yang lebih efektif. Guru diharapkan menjadi pendamping belajar yang mampu memberikan dukungan emosional serta menciptakan suasana belajar yang sehat dan proporsional.
“Jadikan TKA sebagai momentum membangun budaya jujur, tangguh, dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Rahmawati, menambahkan bahwa hasil TKA tidak digunakan untuk memeringkatkan mutu sekolah. Justru, data dari TKA harus dimanfaatkan secara konstruktif oleh sekolah untuk merancang program pembelajaran yang lebih terarah, khususnya dalam penguatan literasi dan numerasi.
“Substansi kebijakan TKA adalah pemetaan capaian kompetensi peserta didik pada aspek-aspek esensial yang menjadi fondasi pembelajaran,” jelas Rahmawati.
Persiapan Teknis dan Antisipasi Kendala
Pihak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah melakukan simulasi TKA untuk siswa kelas VI SD dan IX SMP. Tujuan dari simulasi ini adalah untuk memastikan kesiapan sistem, infrastruktur teknologi, serta alur layanan sebelum pelaksanaan utama TKA.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa simulasi dilakukan untuk menguji berbagai aspek teknis, termasuk kapasitas server, stabilitas jaringan, dan respons sistem terhadap lonjakan akses pengguna. Ia juga menegaskan bahwa kendala teknis yang pernah terjadi selama TKA SMA akan diperbaiki dalam pelaksanaan TKA jenjang SD dan SMP.
“Kami menyadari animo masyarakat yang sangat besar dalam mengikuti TKA sehingga kami terus berkomitmen bahwa kesiapan layanan akan terus menjadi prioritas,” ujar Toni.
Dalam rangka memastikan kelancaran pelaksanaan TKA, Kemendikdasmen juga melakukan optimalisasi kapasitas server dan penyempurnaan mekanisme mitigasi risiko. Dengan demikian, semua pendaftar yang mencapai 9.038.281 murid dapat terfasilitasi dengan baik.
Pelatihan dan Persiapan Siswa
Untuk mendukung kesiapan peserta TKA, Kemendikdasmen mendorong siswa, guru, dan satuan pendidikan memanfaatkan sarana pembelajaran yang telah disediakan. Siswa dapat berlatih dan mengenal bentuk soal TKA melalui laman Ayo Coba TKA serta Ruang Murid pada platform Rumah Pendidikan yang menyediakan contoh soal dan materi pendukung sesuai jenjang.
Mata pelajaran wajib yang diuji dalam TKA jenjang SD dan SMP mencakup Matematika dan Bahasa Indonesia. Mata uji Bahasa Indonesia difokuskan pada keterampilan membaca, termasuk teks informasi dan teks fiksi. Sementara itu, mata uji Matematika mengukur kemampuan siswa dalam memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika, serta penerapan pengetahuan matematika untuk menyelesaikan masalah dalam konteks keseharian.
Bentuk soal TKA tidak hanya pilihan ganda sederhana, tetapi juga melibatkan tiga jenis soal, yaitu pilihan ganda kompleks (PGK) model multiple choice multiple answers (MCMA) dan PGK model kategori. Setiap soal menyajikan beberapa pilihan jawaban atau respons untuk sebuah pokok soal.
Peran Orang Tua dalam Persiapan TKA
Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Dudung Abdul Qadir, mengimbau orang tua untuk mempersiapkan dan memotivasi anaknya jika ingin mengikuti TKA. PGRI menilai bahwa TKA penting sebagai alat ukur capaian akademik siswa selama bersekolah.
“Orangtua bukan hanya mengawasi anak, melainkan juga memberi motivasi dan menyiapkan mental anak-anak kita untuk mengikuti TKA,” kata Dudung.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar