Peran Niat dalam Puasa Ramadhan: Berbagai Versi Lafal yang Bisa Dipilih
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Niat merupakan salah satu elemen penting dalam menjalankan puasa Ramadhan. Menurut Mazhab Syafi’i, niat harus diucapkan dalam hati pada malam hari sebelum matahari terbenam hingga fajar tiba. Ustadz Alhafiz Kurniawan, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), menjelaskan bahwa pelafalan niat puasa sangat dianjurkan sebagai bentuk kesadaran dan kepastian dalam menjalankan ibadah.
Berikut adalah beberapa versi lafal niat puasa Ramadhan yang merujuk pada kitab-kitab klasik dan bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan atau tradisi masing-masing.
1. Niat dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu
Lafal niat:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”
Ustadz Alhafiz menjelaskan bahwa kata “Ramadhana” berkedudukan sebagai mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda baca akhirnya berupa fathah. Sementara kata “sanati” diakhiri dengan tanda baca kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr dengan alasan lil mujawarah.
2. Niat dari Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam
Lafal niat:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”
Dalam niat ini, kata “Ramadhani” dianggap sebagai mudhaf ilaihi yang juga menjadi mudhaf sehingga diakhiri dengan kasrah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarrnya. Sementara kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr atas musyar ilaih kata “hādzihi” yang menjadi mudhaf ilaihi dari “Ramadhani”.
3. Niat dari Kitab Asnal Mathalib
Kitab ini menyediakan dua redaksi lafal niat puasa Ramadhan. Berikut lafal dan penjelasannya:
Lafal pertama:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”
Kata “Ramadhana” pada niat di atas menjadi mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda fathah. Kata “sanata” pada niat kedua ini diakhiri dengan fathah sebagai tanda nashab atas kezharafannya.
Lafal kedua:
نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هٰذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.”
4. Niat dari Kitab I’anatut Thalibin
Sayyid Abi Bakar Syatha ad-Dimyathi menyajikan dua niat puasa Ramadhan dengan redaksi yang relatif lebih pendek dari niat-niat di atas. Berikut dua niat puasa Ramadhan dalam kitab I’anatut Thalibin:
Lafal pertama:
نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ
Artinya: “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”
Lafal kedua:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.”
Rekomendasi untuk Umum
Dari semua versi tersebut, niat puasa Ramadhan yang paling umum digunakan oleh masyarakat adalah yang merujuk pada kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu. Namun, setiap mazhab memiliki pandangan sendiri mengenai bagaimana niat harus dilafalkan.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar