Lebih Awal, Perbedaan Penetapan Awal Ramadhan Antara Tarekat Naqsyabandiyah dan Lembaga Lain
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM –Ā Jamaah Tarekat Naqsyabandiyah di Kota Padang, Sumatera Barat, telah memulai puasa Ramadhan lebih awal dibandingkan pemerintah dan organisasi seperti Muhammadiyah. Penetapan ini dilakukan berdasarkan metode hisab, rukyat, serta dalil kias yang digunakan oleh tarekat tersebut.
Metode Penghitungan Awal Ramadhan
Penghitungan awal bulan Ramadhan oleh Tarekat Naqsyabandiyah didasarkan pada kombinasi antara perhitungan astronomis (hisab) dan pengamatan langsung (rukyat). Metode ini digunakan untuk menentukan kapan 1 Ramadhan dimulai. Dalam hal ini, jamaah tarekat tersebut menetapkan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026. Hal ini tercatat lebih dini dibandingkan penetapan dari pihak pemerintah maupun organisasi lainnya.
Pelaksanaan Ibadah Shalat Tarawih
Pada malam Senin (16/2/2026), jamaah Tarekat Naqsyabandiyah di Surau Gadang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, telah melaksanakan Shalat Tarawih dan Witir malam pertama. Kegiatan ini diikuti oleh belasan jamaah yang hadir secara khusyuk. Menurut Buya Zahar, Imam Tarekat Naqsyabandiyah Surau Baru, pelaksanaan ibadah ini menjadi tanda awal dimulainya puasa Ramadhan bagi para jamaah.
Perbedaan dalam Penetapan Tanggal
Meski penentuan tanggal 1 Ramadhan oleh Tarekat Naqsyabandiyah lebih awal, pihak tarekat menilai perbedaan ini bukanlah masalah serius. Mereka menekankan bahwa perbedaan hanya terjadi dalam metode penghitungan, bukan dalam kebenaran agama. Namun, perbedaan ini tetap menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat dapat menjaga harmoni dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan.
Perspektif dari Tokoh Agama
Buya Zahar menjelaskan bahwa penetapan tanggal Ramadhan oleh tarekat tidak bertujuan untuk bersaing dengan lembaga lain, tetapi lebih sebagai bentuk pengamalan ajaran yang sudah lama ada. Ia menekankan bahwa setiap kelompok memiliki cara masing-masing dalam menentukan awal bulan suci ini. Namun, ia juga menekankan pentingnya saling menghormati antar lembaga dan komunitas.
Reaksi dari Komunitas dan Lembaga Terkait
Beberapa lembaga seperti Muhammadiyah dan pemerintah juga telah menetapkan tanggal awal Ramadhan berdasarkan metode mereka sendiri. Meskipun demikian, banyak tokoh agama dan masyarakat menyampaikan pesan agar semua pihak tetap menjaga kerukunan dan saling menghargai dalam menjalani ibadah puasa.
Pentingnya Kesadaran Bersama
Perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki berbagai pendekatan dalam menjalani ibadah. Namun, hal ini juga menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Setiap kelompok memiliki alasan dan dasar teologisnya masing-masing, tetapi tujuan akhirnya adalah sama, yaitu menjalani ibadah puasa dengan penuh ketulusan dan kesadaran.
Keberagaman dalam Ibadah
Keberagaman dalam penetapan awal Ramadhan mencerminkan keragaman budaya dan tradisi yang ada di Indonesia. Dengan adanya berbagai metode penghitungan, masyarakat bisa memilih cara yang paling sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan mereka. Namun, penting untuk selalu menjaga hubungan baik dan saling menghormati satu sama lain, terlepas dari perbedaan dalam penghitungan awal bulan suci ini.
Penetapan awal Ramadhan oleh Tarekat Naqsyabandiyah menunjukkan bahwa setiap kelompok memiliki pendekatan sendiri dalam menjalani ibadah. Meski terdapat perbedaan, penting untuk menjaga harmoni dan saling menghormati. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalani puasa Ramadhan dengan penuh makna dan kebersamaan.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar