Kebijakan Keamanan AS Terhadap Warga yang Berada di Iran
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengeluarkan peringatan keras kepada warganya untuk segera meninggalkan Iran. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah pidato yang disampaikan pada pertemuan perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Washington DC. Pernyataan ini menunjukkan peningkatan ketegangan antara AS dan Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Rubio menjelaskan bahwa tidak ada warga AS yang boleh melakukan perjalanan ke Iran dengan alasan apa pun. Ia juga menyerukan kepada warga AS yang sedang berada di negara tersebut untuk segera meninggalkannya. Hal ini dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap risiko penahanan atau ancaman lainnya yang mungkin terjadi.
Dasar Hukum dan Langkah Politik
Peringatan ini dikeluarkan setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif untuk Melindungi Warga Negara AS dari Penahanan yang Tidak Sah di Luar Negeri. Selain itu, Kongres AS juga telah mengesahkan UU Pemberantasan Penahanan yang Tidak Sah tahun 2025. Dengan adanya undang-undang ini, Departemen Luar Negeri AS memiliki kewenangan untuk menetapkan Iran sebagai Negara Pendukung Penahanan yang Tidak Sah.
Rubio menekankan bahwa jika Iran tidak segera menghentikan tindakan yang dianggap sebagai ancaman terhadap warga AS, pihaknya akan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan. Salah satu opsi yang mungkin diambil adalah pembatasan perjalanan geografis terhadap penggunaan paspor AS ke, melalui, atau dari Iran.
Perspektif Militer dan Diplomasi
Selain kebijakan diplomatik, pemerintah AS juga membuka semua opsi dalam pendekatannya terhadap Iran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan bahwa pihaknya siap dengan rencana darurat jika Iran menolak mencapai kesepakatan. Ia menegaskan bahwa Presiden Trump lebih memilih solusi diplomatik, tetapi militer AS telah bersiap untuk tindakan apabila diperlukan.
Hegseth menekankan bahwa Iran harus membuat kesepakatan dan memiliki kesempatan untuk melakukannya. Namun, ia juga menyatakan bahwa semua opsi masih dipertimbangkan, termasuk kemungkinan serangan militer. Hal ini menunjukkan bahwa situasi antara AS dan Iran semakin memanas, dengan potensi konflik yang bisa terjadi kapan saja.
Menlu AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa kebijakan ini adalah langkah penting untuk melindungi warga AS. Ia mengatakan, “Jika Iran tidak berhenti, kami terpaksa akan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa pihak AS tidak ingin mengambil risiko besar, namun siap bertindak jika diperlukan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menambahkan bahwa pihaknya akan menyediakan berbagai opsi, termasuk rencana darurat jika Iran memutuskan untuk menolak kesepakatan. Ia menegaskan bahwa semua opsi masih menjadi pertimbangan, termasuk kemungkinan tindakan militer.
Kebijakan AS terhadap warga yang berada di Iran menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat antara kedua negara. Dengan adanya perintah eksekutif dan undang-undang baru, pihak AS menunjukkan komitmen untuk melindungi warganya dari ancaman yang mungkin terjadi. Sementara itu, perspektif militer dan diplomasi tetap menjadi prioritas, dengan kemungkinan tindakan yang bisa diambil jika situasi memburuk.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar