Di Balik Layar: Ketika Idealisme Pers Bertemu Realitas Ekonomi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 9 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di penghujung tulisan ini, mari kita renungkan bersama: idealisme pers tanpa basis ekonomi yang kuat adalah mimpi yang rapuh. Sebaliknya, ekonomi media yang dibangun dengan mengorbankan independensi total adalah pengkhianatan terhadap fungsi pers itu sendiri.
Yang dibutuhkan adalah kejujuran kolektif untuk mengakui dilema ini, bukan menyembunyikannya di balik retorika idealisme atau pembenaran pragmatis. Media perlu didukung—baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat—untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Dukungan itu bisa berupa iklan, subsidi, donasi, atau apa pun, selama tidak disertai syarat yang menggerus independensi.
Dan bagi kita yang bekerja di media, tantangannya adalah menavigasi zona abu-abu ini dengan kebijaksanaan: menerima realitas ekonomi tanpa menyerah pada kompromi total, menjaga integritas tanpa mengabaikan tanggung jawab pada tim yang bergantung pada kita.
Karena pada akhirnya, media yang mati tidak bisa mengawasi siapa pun. Tetapi media yang hidup dengan mengorbankan semua prinsipnya juga tidak layak disebut pers.
Keduanya bukan pilihan yang baik. Maka, kita perlu terus mencari—dan memperjuangkan—jalan ketiga itu.(*)

>
>
>
