Pemkot Surabaya Memperkuat Infrastruktur Penanggulangan Banjir, Antisipasi Puncak Hujan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat infrastruktur pengendalian banjir menjelang puncak musim hujan yang diprediksi terjadi pada Februari 2026. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi risiko genangan air dan mengamankan wilayah dari dampak cuaca ekstrem.
Ketersediaan Rumah Pompa yang Berkembang
Hidayat Syah, Kepala Dinas Sumber Daya Air Dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, menjelaskan bahwa saat ini kota telah didukung oleh 83 rumah pompa yang tersebar di berbagai wilayah. Untuk meningkatkan kapasitas sirkulasi air, Pemkot akan menambah lima unit rumah pompa baru dalam waktu dekat. Lima unit tersebut akan ditempatkan di kawasan Semolo, Nginden, dan Teluk Gumay.
Proses penambahan rumah pompa sedang disiapkan dan akan masuk tahap lelang pada bulan Januari dan Februari. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keandalan sistem drainase di tengah intensitas hujan yang semakin tinggi.
Peran Satuan Tugas dalam Pembersihan Saluran
Selain pembangunan fisik, DSDABM juga menggerakkan tenaga satuan tugas (satgas) secara masif untuk melakukan pengerukan sedimen dan pembersihan saluran. Hidayat menyebutkan bahwa pengerukan di wilayah Greges (Asemrowo) saja mencapai lebih dari 600 rit kendaraan pengangkut. Namun, ia menyayangkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah.
Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran aliran air. Contohnya, pernah terjadi kasus di mana sampah seperti kasur ditemukan di saluran, yang menyebabkan hambatan aliran air.
Pengurangan Titik Genangan Air
Upaya penanganan banjir di Surabaya diklaim mulai menunjukkan hasil positif. Adi Gunita, Kabid Drainase DSDABM Surabaya, menjelaskan bahwa dari 220 titik genangan yang tercatat pada tahun 2021, jumlahnya telah tereduksi signifikan menjadi 138 titik.
Untuk terus menekan angka tersebut, pada tahun anggaran 2026, DSDABM telah merencanakan intervensi pada 30 sistem drainase utama. Dari 30 sistem tersebut, sebanyak 12 sistem akan dilakukan preservasi dan peningkatan kapasitas saluran.
Fokus pada Kawasan Strategis
Beberapa titik yang menjadi perhatian khusus untuk peningkatan kapasitas dan koneksi antar-saluran meliputi kawasan Surabaya Barat dan Utara, seperti Greges, Asem Rowo, serta integrasi dengan Bozem Asam Jawa dan Bozem Margomulyo. Langkah ini bertujuan untuk memastikan aliran air dapat berjalan lancar dan mengurangi risiko genangan.
Pendekatan Berkelanjutan dalam Penanggulangan Banjir
Samsul Hariadi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Surabaya, menambahkan bahwa penanganan banjir tidak hanya soal membuang air ke laut, tetapi juga menabung air di dalam tanah. Oleh karena itu, pemkot terus mendorong pembuatan sumur resapan, terutama di lingkungan sekolah dan pemukiman.
Sumur resapan berfungsi sebagai kantong air di tanah, selain mencegah banjir juga menjaga tanah agar tidak rapuh akibat kehilangan cadangan air.
Kolaborasi dan Partisipasi Masyarakat
Dengan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran, Pemkot Surabaya optimis dampak cuaca ekstrem di bulan Februari dapat diminimalisir. Partisipasi aktif masyarakat sangat penting dalam menjaga kelancaran sistem drainase dan menghindari genangan air.
Upaya pemerintah dan partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan musim hujan yang semakin intens. Dengan persiapan yang matang, Surabaya siap menghadapi puncak musim hujan dan menjaga kenyamanan warganya.***

>

Saat ini belum ada komentar