Saham INET Tergelincir Akibat Tekanan Asing dan Penambahan Modal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rab, 24 Des 2025
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu, 24 Desember 2025. Harga saham yang sebelumnya mencapai Rp 856 pada sesi sebelumnya turun menjadi Rp 795, dengan penurunan sebesar 7,02%. Penurunan ini terjadi setelah adanya tekanan dari investor asing yang melakukan aksi jual besar-besaran.
Selama sesi I perdagangan, sebanyak 628,13 juta saham INET ditransaksikan dengan frekuensi 88.356 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 502,04 miliar. Dari total volume tersebut, sekitar 32.886.000 saham dikuasai oleh investor asing melalui aksi net sell. Hal ini menunjukkan bahwa pasar sedang menghadapi tekanan berat dari pihak luar.
Sebelumnya, saham INET sempat mengalami kenaikan drastis sebesar 24,82% pada perdagangan Selasa, 23 Desember 2025. Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama dan diikuti oleh penurunan tajam pada hari berikutnya. Perubahan arah ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kekhawatiran terhadap rencana penambahan modal perusahaan.
Rencana Penambahan Modal Melalui Rights Issue
Perusahaan telah mengumumkan rencana penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Dalam rencana ini, INET akan menawarkan hingga 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 250 per saham. Total nilai aksi korporasi ini mencapai Rp 3,2 triliun, yang menunjukkan komitmen perusahaan untuk memperluas operasinya.
Pengumuman ini tentu saja memberi dampak terhadap sentimen pasar. Meskipun penambahan modal bisa menjadi langkah strategis untuk mendanai ekspansi bisnis, namun bagi sebagian investor, hal ini bisa dianggap sebagai tanda kekhawatiran terhadap kinerja perusahaan dalam jangka pendek.
Kinerja Keuangan yang Menggembirakan
Meski mengalami penurunan harga saham, kinerja keuangan INET pada kuartal III-2025 (3Q25) menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Gross profit margin (GPM) meningkat menjadi 66,3%, sementara EBITDA mencapai Rp 18 miliar atau naik 53% secara quarter-over-quarter (qoq). Pertumbuhan ini didorong oleh perbaikan bauran pendapatan dan efisiensi belanja operasional (opex).
Laba bersih INET juga melonjak 86% qoq menjadi Rp 11,6 miliar. Dalam periode Januari-September 2025 (9M25), laba bersih mencapai Rp 19,4 miliar, naik 819% secara year-over-year (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang dalam proses pemulihan yang kuat.
Pertumbuhan Pendapatan dari Segmen ISP
Pendapatan INET pada 3Q25 mencapai Rp 23,6 miliar, naik 190,5% secara yoy. Pendapatan selama 9M25 mencapai Rp 68,6 miliar. Pertumbuhan ini terutama berasal dari segmen internet service provider (ISP), yang menyumbang pendapatan sebesar Rp 67 miliar atau naik 188,4% yoy.
Selain itu, pendapatan dari segmen konstruksi mencapai Rp 1,4 miliar, yang kemungkinan terkait dengan ekspansi homepass WIFI. Perusahaan mencatat jumlah pelanggan yang sangat pesat, yaitu 1,5 juta pelanggan pada September 2025, dibandingkan 220 ribu pelanggan pada Desember 2024. Ini menunjukkan bahwa bisnis perusahaan sedang berkembang pesat.
Prediksi Harga Saham oleh Samuel Sekuritas
Samuel Sekuritas memprediksi bahwa harga saham INET dapat mencapai Rp 1.350. Namun, konsensus pasar hanya menempatkan target harga di angka Rp 646. Prediksi ini menunjukkan bahwa ada perbedaan pandangan antara analis dan pasar mengenai potensi pertumbuhan saham INET.
Analisis dari Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa pencapaian kinerja keuangan INET sejauh ini mencapai sekitar 85% dari estimasi setahun penuh. Hal ini mengindikasikan bahwa potensi kenaikan terhadap proyeksi masih terbuka lebar. ***





Saat ini belum ada komentar