Viral Penemuan Bunga Rafflesia di Medsos, Pakar UNAIR Ingatkan Ancaman Kepunahan dan Pentingnya Konservasi
- account_circle Shinta ms
- calendar_month 21 menit yang lalu
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM– Viral di media sosial, kemunculan bunga Rafflesia hasseltii kembali menyedot perhatian publik.
Penemuan bunga langka endemik Indonesia ini tak hanya memicu decak kagum warganet, tetapi juga membuka diskusi serius tentang kondisi habitat alami, eksplorasi ilmiah, serta ancaman kepunahan akibat alih fungsi lahan.
Pakar Botani Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Hery Purnobasuki, MSi, PhD, menjelaskan bahwa Rafflesia merupakan tanaman parasit murni yang sepenuhnya bergantung pada tumbuhan inang untuk hidup.
“Bunga atau tanaman Rafflesia ini merupakan tanaman parasit yang menumpang pada tanaman lain. Dan Indonesia memiliki iklim yang sangat cocok bagi pertumbuhannya,” ujarnya.
Prof. Hery menerangkan bahwa Rafflesia hanya bisa tumbuh pada jenis tanaman merambat tertentu. Berbeda dengan tanaman pada umumnya, Rafflesia tidak memiliki daun, batang, maupun kemampuan fotosintesis.
Seluruh kebutuhan nutrisi diperoleh dari jaringan tumbuhan inangnya.
Habitat tumbuh bunga raksasa ini juga sangat terbatas.
“Ia hanya dapat bertahan pada kawasan yang minim polusi dan tidak banyak tersentuh aktivitas manusia. Karena itu, bunga ini sangat jarang terlihat oleh masyarakat umum,” jelas Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR tersebut.
Saat ini, Indonesia tercatat memiliki sekitar 13–14 spesies Rafflesia, dengan Rafflesia arnoldii sebagai yang paling populer. Namun menurut Prof. Hery, peluang menemukan spesies baru masih terbuka lebar melalui eksplorasi yang lebih serius.
Terkait anggapan bahwa Rafflesia hasseltii yang viral tersebut merupakan penemuan mendadak, Prof. Hery meluruskan bahwa bunga tersebut sebenarnya sudah terpantau lebih dulu sejak fase kuncup.
“Secara morfologi, pengamat dapat mengenali kuncup Rafflesia sejak awal. Warga memberi informasi, kemudian praktisi memantau hingga bunganya mekar. Jadi bukan ditemukan tiba-tiba,” tegasnya.
Meski demikian, hingga kini mekanisme reproduksi Rafflesia masih menjadi misteri besar. Bunga jantan dan betina terpisah, sehingga diperlukan perantara dalam proses pembuahan. Namun bagaimana embrio bisa masuk ke jaringan inang masih terus diteliti.
“Untuk terjadi pembuahan, pasti ada perantara. Namun bagaimana embrio masuk ke jaringan inangnya masih menjadi misteri besar,” ungkapnya.
Ancaman Alih Fungsi Lahan Mengintai Rafflesia
Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar dalam menemukan spesies endemik baru. Namun ancaman alih fungsi hutan dan degradasi lingkungan menjadi faktor utama menyusutnya habitat tanaman langka.
“Kalau ini dianggap sebagai kekayaan, maka harus dipertahankan, bukan sekadar diumumkan. Perlu keterlibatan banyak pihak untuk melindungi habitatnya,” tegas Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR itu.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan teknik kultur Rafflesia sebagai langkah konservasi. Jika teknologi ini berhasil, tanaman dapat dikembalikan ke habitat alaminya untuk menjaga kelestarian populasinya.
Tak hanya itu, keberhasilan menemukan spesies baru juga membuka peluang bagi ilmuwan Indonesia untuk tercatat sebagai penemu dalam nomenklatur ilmiah internasional, sekaligus mengangkat peran Indonesia di dunia riset global. (sms)
- Penulis: Shinta ms




