6 Jenis Teman Beracun yang Perlu Diwaspadai Menurut Psikologi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mengenali Jenis-Jenis Teman Toxic dan Bahayanya
DIAGRAMKOTA.COM – Kehidupan sosial sering kali penuh dengan tantangan, terutama ketika kita berada di lingkaran pertemanan yang tidak sehat. Terkadang, hubungan persahabatan bisa menjadi sumber kebahagiaan, tetapi di lain waktu, bisa juga menjadi beban emosional yang melelahkan. Dalam psikologi, istilah “teman toxic” digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang justru merusak kesejahteraan mental dan emosional kita.
Bayangkan lingkaran pertemanan seperti taman yang indah. Di dalamnya, ada bunga-bunga yang menarik dan hijau, namun juga ada gulma yang bisa merusak keindahan taman tersebut. Gulma ini mungkin awalnya tampak baik, tetapi lambat laun akan menguras energi positif hingga taman menjadi layu. Jika tidak dikenali sejak dini, teman toxic bisa membuat kita terjebak dalam lingkaran yang melelahkan secara emosional.
Dalam beberapa penjelasan dari kanal psikologi populer, para ahli psikologi telah mengidentifikasi pola-pola umum yang bisa membantu kita mengenali tipe teman toxic sejak awal. Berikut adalah enam jenis teman toxic yang sering ditemui dan alasan mengapa mereka berbahaya:
1. Si Tukang Gosip
Awalnya, merasa menjadi bagian dari “inner circle” bisa terasa menyenangkan. Namun, lama-kelamaan kamu mulai bertanya-tanya apakah mereka juga membicarakanmu di belakang. Tukang gosip cenderung menjadikan kehidupan pribadi orang lain sebagai bahan cerita. Sebaliknya, teman sejati akan menjaga rahasia, bukan menjadikannya hiburan.
2. Si Tidak Konsisten (Flaky Friend)
Pernahkah kamu ditinggal menunggu karena janji dibatalkan mendadak? Atau rencana bertemu selalu gagal karena mereka lupa? Itulah ciri dari teman yang tidak konsisten. Meskipun tampak sepele, jika terjadi terus-menerus, hal ini bisa membuatmu merasa tidak penting dalam persahabatan. Rasa percaya pun perlahan terkikis seiring waktu.
3. Si Pesaing Terselubung (Underminer)
Alih-alih mendukung, mereka menjadikan persahabatan sebagai arena kompetisi. Saat kamu berhasil, mereka meremehkan pencapaianmu. Saat kamu kesulitan, mereka mengklaim masalah mereka lebih berat. Persahabatan yang sehat seharusnya saling memberi semangat, bukan membuatmu merasa kalah setiap saat.
4. Si Manipulator Ulung (Master Manipulator)
Ini adalah tipe yang paling berbahaya. Di awal, mereka tampak menawan dan suportif, seolah memahami kamu lebih dari siapa pun. Namun, perlahan mereka mulai menarik “benang” tak terlihat dan melakukan hal-hal seperti:
– Menggunakan guilt-tripping atau membuatmu merasa bersalah.
– Gaslighting, yaitu memanipulasi emosimu agar ragu pada dirimu sendiri.
– Mengisolasi dari teman lain agar kamu lebih bergantung pada mereka.
– Menggunakan kebaikan sebagai senjata, memberi sesuatu lalu menagih dengan kalimat, “Aku sudah melakukan ini, masa kamu enggak balas budi?”
Hubungan seperti ini sangat melelahkan karena kamu dikendalikan tanpa sadar.
5. Si Penyedot Energi (Energy Vampire)
Setiap kali bertemu, bukannya bahagia malah merasa kelelahan. Semua obrolan hanya tentang masalah mereka, tanpa peduli bagaimana kabarmu. Mereka menjadikanmu “tempat sampah emosional”, melepaskan beban pada dirimu, lalu pergi dengan lega, sementara kamu ditinggalkan dengan energi terkuras.
6. Si Korban (The Victim)
Hampir mirip dengan energy vampire, tetapi yang satu ini selalu berperan sebagai korban. Tidak peduli situasi apa pun, mereka tidak pernah bertanggung jawab. Semua salah orang lain, semua masalah lebih berat dari milikmu. Setiap saranmu ditolak karena sebenarnya mereka tidak ingin solusi, hanya ingin simpati. Lama-lama, kamu jadi seperti terikat dalam peran konselor gratis yang tidak pernah dihargai.
Menjaga Lingkaran Sosial yang Sehat
Sebagai penutup, tidak semua teman toxic terlihat jelas sejak awal. Ada yang berubah seiring waktu, ada juga yang baru memperlihatkan wajah aslinya setelah lama dekat denganmu. Karena itu, penting untuk selalu jujur pada diri sendiri: apakah persahabatan ini membuat hidupmu lebih baik atau justru melelahkan?
Jika jawabannya yang kedua, mungkin sudah saatnya pergi dan memberi ruang hanya untuk hubungan yang sehat. Teman sejati tidak menguras energi, melainkan memberi dukungan, kebahagiaan, dan rasa aman. Ingat, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Lebih baik punya satu teman tulus yang selalu ada di sisi, daripada sepuluh teman toxic yang merusak kesehatan mentalmu. Dengan mengenali tanda-tanda ini, kamu bisa lebih selektif dalam menjaga lingkaran sosial dan memastikan hidupmu tetap penuh energi positif.

>
>
>

Saat ini belum ada komentar