Rumah Layak, Hidup Tidak: DPRD Surabaya Ungkap Fakta Lansia Hidupi 4 Cucu Tak Dianggap Miskin
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i bersama keluarga Siti Sumiati
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di atas kertas, keluarga ini tidak miskin. Rumahnya masih berdiri. Dindingnya utuh. Terlintas semuanya tampak baik-baik saja. Akan tetapi di dalamnya, DPRD Surabaya temukan seorang lansia harus menanggung hidup satu anak dan empat cucu tanpa penghasilan tetap.
Fakta itu diungkapkan Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i, saat turun langsung ke wilayah Kecamatan Krembangan.
Ironisnya, keluarga ini tidak masuk kategori miskin. Bukan karena hidupnya cukup, tapi karena rumahnya dianggap masih “layak”.
Sebuah standar yang, dalam praktiknya, lebih peduli pada bangunan daripada isi perut penghuninya.
Sekolah Jadi Kemewahan bagi Anak Asma
Di keluarga itu, sekolah bukan lagi hak dasar. Ia berubah menjadi kemewahan.
Cucu pertama sang lansia, siswi kelas 2 di SMP Negeri 7 Surabaya, harus berjuang melawan penyakit asma setiap hari.
Berjalan kaki ke sekolah bukan sekadar melelahkan—tapi bisa membuatnya jatuh sakit.
“Kalau tidak ada tetangga yang memberi uang untuk naik ojek, ya tidak sekolah. Jalan kaki langsung sakit, bahkan bolak-balik opname di rumah sakit,” ungkap Imam.
Sekolah, yang seharusnya menjadi pintu masa depan, justru menjadi beban yang tak selalu bisa dijangkau.
Akhirnya, bukan negara yang hadir. Tapi tetangga.
Imam pun mengaku turun tangan dengan membelikan sepeda agar siswi tersebut tetap bisa bersekolah.
“Apalagi nanti saat bulan puasa, kondisi fisiknya pasti lebih rentan kalau harus berjalan jauh,” tambahnya.
Usia Sekolah, Tapi Belum Pernah Sekolah
Di sudut rumah yang sama, dua anak kembar berusia 6 tahun belum pernah merasakan bangku pendidikan.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena tidak mampu.
Di tengah gencarnya wacana peningkatan kualitas SDM, masih ada anak-anak yang bahkan belum memulai.
Imam berjanji akan membantu keduanya masuk TK pada tahun ajaran baru.
“Anak-anak ini harus mendapatkan akses pendidikan sejak dini,” tegasnya.
Satu Nenek, Lima Cucu, Tanpa Sandaran
Cerita ini tidak berhenti di sana.
Anak kedua sang lansia, lulusan STM, hingga kini belum memiliki pekerjaan. Sementara ibu dari kelima cucu tersebut telah menikah dua kali—dan kedua suaminya pergi tanpa tanggung jawab.
Yang tersisa hanyalah seorang nenek, menanggung hidup lima cucu di usia senja.
Sebuah potret keluarga yang rapuh, tapi tak cukup “rapuh” untuk diakui sebagai miskin.
DPRD Surabaya: Program Tinggi, Realita Masih Rendah
Dalam kondisi seperti ini, Imam menilai arah kebijakan pemerintah perlu ditinjau ulang.
“Pemkot jangan muluk-muluk dulu bicara program satu keluarga satu sarjana. Faktanya, masih banyak warga yang kesulitan makan karena tidak punya pekerjaan,” tegasnya.
Pernyataan itu seperti menampar realita: ketika program besar digagas, kebutuhan paling dasar justru belum terpenuhi.
Lebih ironis lagi, ada warga yang jelas kesulitan hidup, namun tidak masuk daftar bantuan karena tidak memenuhi syarat administratif.
“Ironisnya, mereka tidak diakui miskin sehingga tidak bisa masuk daftar keluarga miskin atau pra-miskin,” lanjutnya.
Ketika Data Lebih Penting dari Kenyataan
Kasus ini memperlihatkan satu hal: kemiskinan tak selalu terlihat dari dinding rumah.
Namun dalam sistem, yang diukur justru itu.
Akibatnya, warga yang kesulitan makan bisa dianggap “mampu” hanya karena masih memiliki tempat tinggal yang layak secara fisik.
Sementara realitasnya, kebutuhan dasar belum terpenuhi.
“Penuhi dulu kebutuhan dasar warga. Setelah itu, baru bicara program-program lanjutan,” pungkas Imam. ***

>
>
>