Potensi Banjir di Kecamatan Kapas Masih Mengintai, Pemkab Siap Lakukan Normalisasi Sungai
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Banjir yang terjadi di Kecamatan Kapas beberapa waktu lalu masih meninggalkan dampak yang cukup signifikan. Meskipun air mulai surut, masyarakat tetap waspada karena potensi banjir susulan masih mengancam. Hal ini disebabkan oleh kondisi sungai yang belum sepenuhnya bersih dan adanya hujan intensitas tinggi yang bisa memicu kembali banjir.
Penyebab Utama Banjir di Wilayah Kapas
Berdasarkan informasi dari Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Bojonegoro, penyebab utama banjir di Kecamatan Kapas adalah adanya sumbatan di aliran sungai. Tiga sungai utama yang menjadi perhatian adalah Sungai Kali Loro, Kedunggigil, dan Karanglo. Sumbatan ini membuat air tidak bisa mengalir dengan lancar, sehingga mudah meluap saat hujan deras.
Kepala Dinas PU SDA Bojonegoro, Helmy Elisabeth, menjelaskan bahwa meski banjir sudah surut, potensi kembali terjadinya banjir masih ada. “Jika turun hujan dengan intensitas tinggi di bagian hulu, maka banjir bisa kembali terjadi,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa anak sungai Kali Loro seperti Kedunggigil dan Karanglo masih memiliki sumbatan yang perlu segera dibersihkan.
Upaya Pemkab untuk Mengatasi Ancaman Banjir
Untuk mengurangi risiko banjir, DPUSDA Bojonegoro berencana melakukan normalisasi terhadap tiga sungai tersebut. Normalisasi ini bertujuan agar aliran air dapat lebih lancar dan mencegah banjir susulan. Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Satker OP IV Bengawan Solo untuk mencari solusi jangka panjang.
Helmy menambahkan bahwa selama elevasi Bengawan Solo masih rendah, banjir bisa cepat surut. Namun, upaya preventif tetap diperlukan agar masyarakat tidak kembali terkena dampak banjir. “Kami akan terus memantau situasi dan siap mengambil langkah-langkah darurat jika diperlukan,” tambahnya.
Dampak Banjir Terhadap Masyarakat
Pada Rabu (11/2), banjir terjadi di tujuh desa di Kecamatan Kapas, yaitu Desa Wedi, Kalianyar, Tikusan, Sukowati, Bakalan, Mojodeso, serta Semanding. Sebanyak 568 KK rumah warga tergenang dengan ketinggian antara 20 cm hingga 60 cm. Banjir ini menyebabkan kerugian materi dan ketidaknyamanan bagi masyarakat.
Selain itu, sekitar 25 hektare sawah di Desa Tikusan yang siap panen juga terancam. Namun, berkat operasi pompa portabel, air mulai surut pada Jumat (13/2). Warga setempat berharap kebijakan pemerintah dapat lebih proaktif dalam mencegah banjir di masa depan.
Langkah Darurat dan Persiapan Jangka Panjang
Pemerintah daerah juga telah mengambil langkah darurat dengan mengoperasikan pompa portabel untuk menguras air yang tergenang. Di samping itu, koordinasi dengan pihak desa dan masyarakat sangat penting untuk memastikan bahwa semua pihak terlibat dalam upaya pencegahan banjir.
Dalam beberapa bulan terakhir, wilayah Bojonegoro sering dilanda banjir akibat curah hujan tinggi dan kondisi sungai yang tidak optimal. Oleh karena itu, langkah-langkah seperti normalisasi sungai dan peningkatan infrastruktur drainase menjadi prioritas utama.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan Banjir
Meski pemerintah berperan penting dalam pengelolaan air, partisipasi masyarakat juga sangat krusial. Warga diminta untuk tidak membuang sampah sembarangan di sekitar sungai dan aktif mengikuti sosialisasi tentang mitigasi bencana. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan risiko banjir di Kecamatan Kapas dapat diminimalkan.***

>
>
>
Saat ini belum ada komentar