Media Indonesia / Wikimedia Commons – CC BY 3.0
DIAGRAMKOTA.COM – Sejumlah tokoh publik dari dunia hiburan turut meramaikan aksi demonstrasi bertajuk #IndonesiaSadar yang digelar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Aksi ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan menjadi kelanjutan dari gelombang protes sebelumnya pada 20 Oktober 2026, yang diprakarsai oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Komite SADAR).
Tokoh Publik Berbondong-bondong Ikut Suarakan Aspirasi
Kehadiran para artis menjadi sorotan utama dalam aksi tersebut. Aktor ternama Reza Rahadian hadir bersama penyanyi muda Eva Celia, keduanya terlihat mengenakan topi dan masker sebagai bentuk simbolik perlindungan diri serta solidaritas dengan massa aksi. Eva Celia tampil dengan kaos putih bertuliskan “Join Us. We fight for a clean government”, pesan yang menekankan pentingnya partisipasi warga dalam membangun pemerintahan yang transparan dan bebas korupsi.
Di sisi lain, Zaskia Adya Mecca, istri dari sutradara Hanung Bramantyo, hadir dengan membawa ambulans dan logistik untuk mendukung kebutuhan medis dan dasar peserta demonstrasi. Keberadaannya mencerminkan komitmen seniman untuk ikut serta dalam upaya humaniter selama aksi berlangsung. Ia sebelumnya juga dikenal aktif memberikan bantuan saat mahasiswa menggelar aksi besar-besaran.
Sementara itu, aktris dan mantan politikus Wanda Hamidah turut menyampaikan pesan kuat melalui poster yang dibawanya bertuliskan “Silence is violence” — diam adalah bentuk kekerasan. Pesan ini menjadi pernyataan moral terhadap ketidakpedulian terhadap isu-isu sosial dan politik yang sedang berkembang.
Lima Tuntutan Utama bagi Pemerintah
Dalam pernyataan sikap resmi, Komite SADAR menyampaikan lima tuntutan strategis yang ditujukan kepada pemerintah, menjadikan aksi ini bukan sekadar ekspresi emosi, tetapi bentuk aspirasi struktural:
Penanganan Bencana dan Tata Kelola Lahan
Meminta penetapan status bencana nasional, pengadilan terhadap korporasi yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan, serta integrasi tata kelola lahan secara menyeluruh dan berkelanjutan.Anggaran Negara untuk Kepentingan Rakyat
Mendorong APBN agar lebih fokus pada kebutuhan rakyat, termasuk menghentikan pemborosan anggaran untuk program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), yang dinilai tidak efektif secara jangka panjang.Pendidikan, Layanan Dasar, dan Lapangan Kerja
Menyerukan penurunan biaya pendidikan, perluasan akses layanan dasar (kesehatan, air bersih, listrik) secara merata, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas untuk generasi muda.Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi
Menghentikan penyalahgunaan hukum sebagai alat kekuasaan dan memperkuat sistem pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) secara objektif dan independen.Kebebasan Berpendapat dan Penghentian Militerisasi
Menjamin hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat tanpa takut represi, serta menghentikan praktik militerisasi yang mulai merambah ke ranah sipil dan politik.
Momentum Perjuangan Rakyat dan Kewaspadaan Sosial
Aksi #IndonesiaSadar bukan hanya tentang pernyataan politik, tetapi juga tentang kesadaran kolektif bahwa rakyat memiliki hak untuk memprotes kebijakan yang dianggap merugikan. Seruan “Tepati atau Pergi” menjadi slogan utama yang menggambarkan harapan akan pertanggungjawaban pemerintah terhadap janji-janji politik.
Demonstrasi ini juga didukung oleh kelompok-kelompok lain, termasuk massa emak-emak yang datang membawa makanan gratis untuk mendukung para mahasiswa dan aktivis. Aksi ini menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak lagi terbatas pada kalangan intelektual, tetapi telah menyentuh lapisan masyarakat luas dari berbagai latar belakang.
Dengan partisipasi tokoh-tokoh publik, dukungan logistik dari seniman, dan massa yang solid, aksi di Bundaran HI menjadi simbol perlawanan damai yang penuh harapan. Di tengah dinamika politik dan ekonomi yang kompleks, gerakan ini mengingatkan bahwa demokrasi sejati lahir dari keberanian rakyat untuk bersuara.













