DIAGRAMKOTA.COM – KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam mendorong rekonsiliasi di tengah dinamika Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Ia ingin muktamar menjadi ruang rekonsiliasi, bukan arena yang semakin mempertajam konflik internal jam’iyyah.
Gus Salam menilai dinamika Muktamar NU ke-35 telah mencapai titik yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia menyebut sejumlah muktamirin dari PWNU, PCNU, dan PCINU luar negeri mengalami kelelahan secara fisik maupun mental akibat tekanan dan konflik yang muncul selama pelaksanaan muktamar.
Menurut Gus Salam, NU membutuhkan suasana muktamar yang aman, nyaman, dan memberikan ruang kepada seluruh peserta untuk bermusyawarah secara bebas demi kepentingan jam’iyyah.
Ia juga menyoroti dugaan intimidasi struktural, manipulasi legalitas hak peserta, serta tekanan dalam proses kepesertaan dan persidangan.
Gus Salam menilai berbagai persoalan tersebut dapat mengganggu kemandirian PWNU, PCNU, dan PCINU dalam menjalankan haknya di forum muktamar.
Selain itu, Gus Salam menyinggung dugaan karantina dan politik uang yang menurutnya menimbulkan luka serta beban psikologis bagi peserta.
Ia meminta seluruh pihak mengakhiri praktik yang dapat memperburuk hubungan antarwarga NU.
Gus Salam juga mengajak para muktamirin menggunakan hati nurani dan nalar kritis dalam menentukan pilihan. Ia berharap peserta muktamar mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan jam’iyyah dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
“Biarkan peserta muktamar bertindak dengan nuraninya. Bersikap dengan nalar kritisnya; mengeksplorasi cara berpikir (fikrah) berbasis paham Aswaja yang membangkitkan jiwa khidmah berjam’iyyah dan bernegara,” kata Gus Salam dalam siaran persnya, Sabtu (29/8/2026).
Gus Salam Bawa Misi Rekonsiliasi Total
Gus Salam mengatakan sejumlah masyayikh sepuh NU dan pesantren mendorong dirinya untuk berikhtiar menjadi pemimpin PBNU.
Ia mengaku mendapat amanah untuk mengembalikan marwah NU dan ulama sekaligus menjalankan misi rekonsiliasi total dalam kehidupan berjam’iyyah dan bernegara.
“Saya, Abdussalam Shohib, tidak hanya diperintah oleh Masyayikh Sepuh NU-Pesantren untuk berikhtiar menjadi pemimpin PBNU dengan cara santun dan beradab, juga diberi amanah-misi untuk mengembalikan marwah NU-Ulama serta melakukan rekonsiliasi total dalam khidmah berjam’iyyah NU dan berNKRI,” ujarnya.
Jika mendapat kepercayaan menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031, Gus Salam menawarkan sejumlah langkah pembaruan internal.
Ia ingin mendorong inklusivitas dan pemerataan kepemimpinan dalam tubuh jam’iyyah NU.
Salah satu komitmennya yakni memilih Sekretaris Jenderal dari luar Jawa.
Menurut Gus Salam, langkah tersebut dapat memperkuat pendampingan dan afirmasi bagi PWNU serta PCNU di luar Pulau Jawa.
“Kami akan mengambil Sekretaris Jenderal dari Luar Jawa, sebagai komitmen nyata kami untuk memprioritaskan pendampingan serta afirmasi bagi PWNU dan PCNU di luar pulau Jawa,” jelasnya.
Selain itu, Gus Salam berencana menempatkan kader NU dari kalangan diaspora sebagai Wakil Ketua Umum atau Ketua Bidang Luar Negeri.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan peran NU di tingkat global.
Gus Salam juga menegaskan komitmennya menjaga hubungan baik dengan pemerintah dan seluruh partai politik.
Namun, ia menekankan bahwa hubungan tersebut harus tetap berpegang pada garis perjuangan atau khittah Nahdlatul Ulama.
Melalui gagasan tersebut, Gus Salam ingin membawa NU memasuki fase baru yang mengedepankan persatuan, kemandirian, pemerataan kepemimpinan, serta penguatan marwah ulama.
Ia berharap Muktamar NU ke-35 mampu menjadi momentum untuk mengakhiri konflik dan membuka ruang rekonsiliasi bagi seluruh elemen NU.(Dk/yud)

























