Perubahan Ekonomi Digital dan Dampak pada Pasar Konvensional di Surabaya, Anggota PKS Minta Penjualan Online Diatur
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(Pasar Surya)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pasar tradisional dan pusat perbelanjaan di Surabaya kini menghadapi tantangan besar akibat maraknya penjualan online. Banyak pelaku usaha konvensional mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung dan penjualan, yang terus berlangsung sejak akhir tahun 2024. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan keseimbangan antara perdagangan digital dan offline.
Keluhan Pelaku Usaha Konvensional
Anggota Komisi B DPRD Surabaya dari Fraksi PKS, Enny Minarsih, menyampaikan bahwa keluhan para pedagang mulai ramai disampaikan setelah reses pertama tahun 2024. Ia mengatakan, “Tingginya konsumen terhadap penjualan online membuat sejumlah pelaku usaha konvensional di pasar maupun mall mengeluhkan kondisi tersebut.”
Enny menekankan pentingnya keseimbangan antara perdagangan konvensional dan digital. Ia menilai, meskipun penjualan online memberikan kemudahan bagi konsumen, hal ini juga berdampak pada bisnis tradisional yang semakin sepi. “Saat sidak, saya melihat di Pasar Pucang dan mall-mall, itu sudah tidak seramai dulu,” ujarnya.
Tantangan Adaptasi Digital
Meski demikian, Enny juga mendorong para pedagang untuk memanfaatkan platform digital sebagai sarana penjualan. Namun, ia mengakui bahwa banyak pedagang tradisional masih kesulitan beradaptasi dengan sistem perdagangan online. “Mereka masih konvensional, tergerus sama yang online. Nah, seperti itu mereka minta ke Komisi B, agar online pun ditata, jangan sampai menggerus semua pasar offline,” katanya.
Peran Pemerintah dan Regulasi
Enny menilai, pemerintah harus lebih proaktif dalam mengatur ekosistem perdagangan agar tetap sehat. Ia menyarankan adanya regulasi yang dapat menjaga keseimbangan antara bisnis online dan offline. “Kita perlu memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak menghilangkan peran pasar tradisional,” tambahnya.
Kebijakan yang Perlu Diperhatikan
Selain itu, Enny juga menyoroti perlunya kebijakan yang mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM). Ia berharap, pemerintah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pelaku usaha konvensional untuk tetap bertahan di tengah persaingan digital.
Pandangan Masyarakat
Masyarakat Surabaya juga mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara perdagangan online dan offline. Banyak dari mereka mengkhawatirkan hilangnya identitas pasar tradisional jika penjualan online terus berkembang tanpa batas. “Kita perlu melindungi warisan budaya dan ekonomi lokal,” ujar salah satu warga.
Langkah yang Diperlukan
Untuk mengatasi masalah ini, Enny menyarankan beberapa langkah, termasuk:
- Membuat regulasi yang mengatur penjualan online agar tidak merugikan pasar konvensional.
- Memberikan pelatihan digital kepada pelaku usaha konvensional agar bisa beradaptasi.
- Meningkatkan promosi pasar tradisional melalui media sosial dan kampanye lokal.
- Memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Perubahan ekonomi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Namun, penting untuk menjaga keseimbangan antara perdagangan online dan offline agar tidak menghilangkan peran pasar tradisional. Dengan langkah-langkah yang tepat, Surabaya dapat tetap menjadi pusat perdagangan yang dinamis dan inklusif.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar