Pekerja Migran Indonesia di Wilayah Timur Tengah Menghadapi Ancaman Konflik
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Sebanyak 7.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berasal dari Jawa Timur ditempatkan di negara-negara kawasan Timur Tengah sejak lima tahun terakhir, yaitu dari tahun 2022 hingga 2026. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mengingat meningkatnya eskalasi gencatan senjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang turut memengaruhi stabilitas wilayah tersebut.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI), tercatat bahwa PMI asal Jawa Timur yang berada di Timur Tengah mencapai angka 7.000 orang. Angka ini mencerminkan jumlah yang signifikan dan menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap kondisi mereka dalam situasi yang mungkin semakin memburuk.
Distribusi PMI di Negara-Negara Timur Tengah
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jatim, Gimbar Ombai Helawarnana, menjelaskan bahwa jumlah PMI yang terdata tersebar di beberapa negara. Arab Saudi menjadi tempat paling banyak dengan 3.994 jiwa, disusul oleh Turki dengan 958 jiwa dan Qatar dengan 638 jiwa. Sementara itu, jumlah PMI di negara lainnya lebih sedikit, seperti Lebanon yang hanya memiliki satu orang dan Yordania dengan 13 orang.
Gimbar juga menegaskan bahwa semua PMI yang terdata adalah legal. Oleh karena itu, pihaknya tidak memiliki wewenang untuk menangani PMI ilegal. Namun, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) telah menyiapkan layanan hotline 24 jam melalui nomor 6221 2924 4800 untuk PMI legal maupun ilegal.
Persiapan Evakuasi dan Bantuan Darurat
Menyadari potensi risiko yang bisa terjadi akibat konflik di kawasan tersebut, KP2MI telah menyiapkan berbagai skenario evakuasi. Proses evakuasi akan dilakukan berdasarkan informasi faktual dan bekerja sama dengan Perwakilan RI di negara-negara Timur Tengah yang terdampak.
Jika PMI asal Jatim tiba di Bandara Juanda, BP3MI akan memfasilitasi kepulangan mereka hingga ke daerah asal. Jika PMI pulang dalam kondisi gangguan kesehatan fisik atau psikologis, pihaknya siap memberikan bantuan medis. Untuk PMI yang tiba di Bandara Soekarno Hatta, KP2MI akan memfasilitasi transportasi darat, seperti Damri, ke provinsi asal PMI.
Kerjasama dengan Pemerintah Daerah
BP3MI Jawa Timur akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk memfasilitasi pemulangan PMI ke daerah asal kabupaten/kota. Pihaknya juga akan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat untuk melakukan rehabilitasi bagi PMI yang mengalami tekanan akibat konflik.
Perwakilan RI di negara-negara yang terkena dampak konflik memiliki shelter atau rumah singgah, beberapa di antaranya berada dalam komplek bangunan perwakilan. Meskipun demikian, pihaknya mengimbau WNI dan PMI tetap tenang, mengikuti arahan, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI setempat.
Tanggung Jawab dan Kesiapan Bersama
Dalam situasi yang mungkin berubah cepat, kesiapan dan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga pelindungan PMI sangat penting. Selain itu, perlunya edukasi dan pemahaman bagi para PMI tentang bagaimana menghadapi situasi darurat dan memanfaatkan layanan yang tersedia. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar