Inovasi Pengelolaan Sampah di Kudus dan Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, dua kota di Jawa, Kudus dan Surabaya, menunjukkan inovasi luar biasa dalam mengelola sampah. Dari pengolahan limbah organik menjadi pupuk hingga konversi sampah menjadi energi listrik, kedua kota ini memberikan contoh nyata bahwa sampah bisa menjadi sumber daya.
Pusat Pengolahan Organik di Kudus: Transformasi Sampah Menjadi Pupuk
Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Pusat Pengolahan Organik (PPO) di Djarum OASIS Kretek Factory menjadi salah satu inisiatif terbesar dalam mengubah sampah dapur menjadi bermanfaat. Sejak 2018, fasilitas ini menerima sekitar 100 ton sampah organik setiap hari. Melalui proses fermentasi, sampah-sampah tersebut diproses tanpa aroma menyengat atau gas metana yang berbahaya.
“Di TPA Tanjungrejo, sekitar 70 persen sampah yang dibuang adalah sampah dapur yang tidak diolah,” ujar Timothy Ariel, Supervisor Program Associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation. “Kami ingin memutus cara pandang lama bahwa sampah harus selalu berakhir di tanah pembuangan.”
Hasil dari pengolahan ini adalah sekitar 50 ton pupuk organik per hari. Pupuk ini tidak diperjualbelikan, tetapi digunakan untuk pembibitan tanaman di area yang sama, serta dapat diambil gratis oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya. Filosofi ini mencerminkan keinginan untuk membawa manfaat lingkungan kembali kepada publik.
Pusat Pembibitan Tanaman di Kudus: Menanam Harapan di Setiap Bibit
Di samping PPO, Djarum OASIS juga memiliki Pusat Pembibitan Tanaman (PPT), tempat berbagai jenis tanaman dikembangkan. Mulai dari tanaman langka hingga buah-buahan seperti mangga, alpukat, dan pisang, bibit-bibit ini dirawat dengan teliti dan siap tanam. Seperti pupuknya, bibit-bibit ini juga tidak diperjualbelikan, namun bisa diambil secara gratis oleh berbagai pihak.
Bibit-bibit ini menjadi bagian dari gerakan hijau besar milik Djarum, Trees for Life. Hingga kini, lebih dari 2,3 juta pohon trembesi telah ditanam di sepanjang jalur Pantura Jawa, sementara ribuan pohon lainnya ditanam di kawasan pantai dan pegunungan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi jejak dari keyakinan bahwa menanam pohon adalah menanam masa depan.
Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik di Surabaya
Di Surabaya, sampah tidak lagi hanya menjadi beban. Di TPA Benowo, teknologi Waste to Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) telah mengubah sampah menjadi sumber daya. Fasilitas ini mampu menangani sekitar 1.000 ton sampah per hari, dengan kapasitas produksi listrik sebesar 5,5 GWh dari sistem gas metana dan 30 GWh dari sistem gasifikasi.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, menjelaskan bahwa PLTSa Benowo merupakan wujud nyata kolaborasi antara PLN dan Pemerintah Kota Surabaya. “PLTSa Benowo telah menyumbang energi bersih sebesar 166,1 gigawatt hour (GWh) selama sembilan tahun beroperasi,” katanya.
Teknologi ini bekerja melalui dua sistem utama: gas power plant yang memanfaatkan gas metana dari timbunan sampah, dan gasification yang membakar sampah pada suhu tinggi untuk menghasilkan panas yang kemudian diubah menjadi listrik. Proses ini tidak hanya mengurangi jumlah sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.
Sampah Bukan Akhir, Tapi Awal Baru
Dari Kudus hingga Surabaya, cerita tentang sampah kini bukan lagi kisah tentang sisa, tetapi kisah tentang harapan. Sampah yang selama ini dianggap sebagai beban kini menjadi sumber daya yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan inovasi dan keseriusan, dua kota ini menunjukkan bahwa solusi untuk masalah lingkungan adalah mungkin, asalkan ada keinginan untuk berubah.***

>
>
>
>
Saat ini belum ada komentar