Inovasi Liga Jepang dalam Menghadapi Tekanan Adu Penalti
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Liga sepak bola Jepang, khususnya J1 League, tengah mencoba terobosan baru dalam menghadapi tantangan yang sering dihadapi oleh tim nasional negara tersebut. Salah satu isu utama yang selama ini menjadi sorotan adalah performa buruk Timnas Jepang dalam adu penalti. Hal ini menjadi alasan utama bagi operator liga untuk menerapkan aturan khusus dalam turnamen J1 100 Year Vision League.
Perubahan Regulasi Liga Jepang
Turnamen J1 100 Year Vision League dirancang sebagai bagian dari transisi kompetisi dari format satu kalender ke dua kalender. Musim 2025 akan disambung ke musim 2026 atau 2027. Untuk mengisi jeda sekitar enam bulan, operator menggelar turnamen singkat selama empat bulan dengan peserta seluruh klub J1 League.
Dalam regulasi tersebut, setiap pertandingan yang berakhir imbang langsung dilanjutkan ke adu penalti. Pemenang adu penalti mendapat dua poin, sedangkan tim kalah memperoleh satu poin. Skema ini hanya berlaku pada J1 100 Year Vision League dan tidak masuk dalam kompetisi liga reguler.
Alasan Di Balik Kebijakan Baru
Kebijakan ini muncul di tengah kekhawatiran tentang kemampuan tim nasional Jepang dalam menghadapi situasi adu penalti. Dalam sejarah Piala Dunia, Timnas Jepang tiga kali terhenti di babak 16 besar dan belum pernah melangkah ke perempat final. Dua kegagalan terjadi lewat adu penalti, termasuk saat kalah 1-3 dari Kroasia pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Ketua J.League, Saburo Kawabuchi, mengakui bahwa aspek ini perlu perhatian khusus. Ia menilai bahwa Jepang tergolong buruk dalam adu penalti. “Anda tidak akan bisa menang jika tidak berlatih secara reguler,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya kreativitas dalam menghadapi situasi tos-tosan.
Dampak pada Pemain dan Pelatih
Melalui aturan baru ini, pemain diharapkan lebih terbiasa menghadapi situasi adu penalti. Ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan mental dan teknis para pemain, terutama dalam pertandingan-pertandingan penting. Pelatih dan staf pelatihan juga akan memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengasah kemampuan pemain dalam menghadapi tekanan psikologis.
Pembelajaran untuk Negara Lain
Turnamen J1 100 Year Vision League hanya berlangsung satu kali sebagai bagian dari masa transisi. Namun, kebijakan ini bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain yang ingin meningkatkan performa mereka dalam adu penalti. Indonesia, misalnya, bisa belajar dari pendekatan Jepang untuk menghadapi tantangan serupa.
Para ahli sepak bola internasional juga memberikan tanggapan terhadap kebijakan ini. Media Inggris, The Guardian, ikut menyoroti kebijakan ini karena dinilai berbeda dari format liga pada umumnya. Mereka melihat inovasi ini sebagai langkah proaktif dalam menghadapi tekanan psikologis yang sering dihadapi pemain dalam pertandingan penting.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar