Keterbatasan Solar di Sampang Jelang Akhir Tahun, kapal penyebrangan terdampar di tengah laut
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rab, 31 Des 2025
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Ketika musim liburan tiba, masyarakat biasanya bersiap untuk merayakan momen spesial dengan berbagai kegiatan. Namun, di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, situasi justru berbeda. Masyarakat menghadapi tantangan nyata akibat keterbatasan pasokan solar yang memengaruhi transportasi laut. Hal ini terjadi menjelang akhir tahun 2025, saat sejumlah kapal penyeberangan mati di tengah laut karena kehabisan bahan bakar.
Pengalaman Kapal Mati di Laut
Salah satu pengalaman paling menonjok adalah ketika kapal penyeberangan menuju Pulau Mandangin harus terombang-ambing di laut karena mesinnya mati. Kejadian ini terjadi pada Selasa (30/12/2025) pagi, saat drg Rina Dewiyanti, Kepala Puskesmas Pulau Mandangin, hendak bekerja. Kapal yang awalnya berjalan normal dari Pelabuhan Tanglok tiba-tiba mati di tengah perjalanan karena kehabisan solar.
“Kapalnya mati di tengah laut. Saya coba hubungi teman-teman untuk cari solar ternyata sulit dan tidak dapat juga,” ujar Rina. Keadaan semakin memprihatinkan karena tidak ada alternatif lain selain menunggu bantuan dari nelayan setempat.
Bantuan Nelayan untuk Menyelamatkan Kapal
Setelah beberapa saat terombang-ambing, kapal yang ditumpangi Rina akhirnya mendapatkan bantuan dari nelayan lokal. Dengan menggunakan perahu lebih kecil, kapal tersebut ditarik hingga bisa mencapai Pulau Mandangin. “Alhamdulillah bisa sampai ke Mandangin dengan selamat,” kata Rina.
Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya akses ke solar bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi laut. Meski begitu, Rina menyebut bahwa tarif perjalanan tetap sama, yaitu Rp 15.000 sekali jalan. Untuk pulang pergi, biaya yang dikeluarkan adalah Rp 30.000.
Suplai Biosolar yang Melebihi Kuota
Menanggapi isu keterbatasan solar, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengatakan bahwa suplai biosolar di Kabupaten Sampang sudah melebihi kuota yang ditetapkan pemerintah. “Untuk Kabupaten Sampang kuota untuk Biosolar bersubsidi sudah melebihi jumlah yang ditugaskan oleh pemerintah untuk disalurkan,” katanya.
Meskipun demikian, Ahad menjelaskan bahwa distribusi biosolar tetap dilakukan, meskipun dibatasi. “Tetap didistribusikan dengan penyesuaian karena sudah lebih dari kuota yang ditugaskan. Per hari ini, sudah 101,8 persen disalurkan untuk Kabupaten Sampang,” tambahnya.
Masalah Akses dan Ketersediaan Solar
Masalah akses dan ketersediaan solar menjadi isu utama yang dihadapi masyarakat Sampang. Meski kuota telah melebihi batas, pengelolaan distribusi tetap menjadi tantangan. Hal ini memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal transportasi laut yang sangat vital bagi warga Pulau Mandangin.
Solusi dan Harapan
Dalam situasi seperti ini, solusi yang efektif dan berkelanjutan sangat diperlukan. Masyarakat berharap pemerintah dan perusahaan seperti Pertamina dapat lebih proaktif dalam memastikan ketersediaan solar, terutama menjelang masa liburan. Dengan adanya kepastian pasokan, masyarakat akan lebih tenang dalam melakukan aktivitas sehari-hari. ***





Saat ini belum ada komentar