DIAGRAMKOTA.COM – Beberapa
daerah di Kabupaten
Bandung,
Jawa Barat, terendam
banjir sejak malam Kamis (4/12/2025).
Gubernur Jawa Barat
Dedi Mulyadi menyatakan bahwa penanggulangan banjir di Kabupaten Bandung ke depan tidak boleh lagi dilakukan secara sebagian.
Pengelolaan harus dilakukan dengan perubahan tata ruang dan
lingkungan secara menyeluruh.
Dedi menyebutkan tiga langkah strategis yang akan menjadi perhatian
pemerintah provinsi dalam mengatasi banjir tahunan di kawasan tersebut.
“Langkah pertama yaitu memulihkan tata ruang daerah hulu dengan meningkatkan jumlah ruang terbuka hijau,” ujarnya pada Jumat (5/12/2025).
Menurutnya, langkah ini pasti memicu respons dari berbagai pihak yang telah lama menikmati penggunaan lahan di wilayah hulu.
“Tetapi hal ini perlu dilakukan. Tata ruangnya harus dipulihkan agar fungsi ekologisnya dapat berjalan kembali,” ujarnya.
Langkah kedua yaitu menghentikan peralihan penggunaan lahan, khususnya perubahan dari kebun teh dan kawasan hutan menjadi lahan
pertanian sayuran seperti kentang serta komoditas lainnya. Kegiatan ini telah menyebabkan peningkatan sedimentasi yang masuk ke
Sungai Citarum.
“Perkebunan yang berubah harus dikembalikan menjadi perkebunan teh atau tanaman keras lainnya yang tidak menambah beban sedimentasi,” tegasnya.
Tindakan ketiga yaitu membangun bendungan di Kertasari sebagai bagian dari pengelolaan
air dari daerah hulu. Ketiga langkah tersebut akan dilakukan bersamaan, dan keberhasilannya memerlukan dukungan dari berbagai pihak.
“Saya mengharapkan seluruh pihak tidak hanya berteriak saat terjadi banjir. Mari bersama-sama menangani akarnya,” ujarnya.
Selain itu, Dedi menyoroti
kebijakan pemberian izin
pembangunan perumahan yang mengakibatkan pengurukan daerah aliran sungai (DAS) serta rawa-rawa. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut perlu dihentikan dan direvisi kembali.
Oleh karena itu, ia mengajak Kabupaten Bandung dan
Kota Bandung bekerja sama dalam merancang ulang tata ruang, termasuk memulihkan danau kecil serta cekungan alami yang kini telah berubah menjadi permukiman dan area
bisnis.
“Penanggulangan banjir tidak boleh hanya berfokus pada daerah hulu. Kita perlu berani memulihkan fungsi-fungsi alami. Jika tidak, banjir akan terjadi kembali setiap tahun,” katanya. ***
Saat ini belum ada komentar