Memahami 10 Ungkapan Umum yang Sering Diandalkan Orang Canggung Secara Sosial
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dalam interaksi sehari-hari, kita sering mencapai frasa-frasa “aman” ketika merasa tidak yakin atau gugup dalam percakapan.
Kebiasaan ini adalah hal yang wajar bagi banyak orang, namun frasa pengaman tersebut dapat menghambat koneksi yang lebih dalam.
Perlu dipahami bahwa kecanggungan sosial bukanlah sebuah kekurangan; melansir dari Geediting.com Kamis (30/10), hal itu justru sinyal bahwa otak sedang mencari kepastian.
Kunci untuk mengatasi rasa canggung adalah dengan memiliki rencana komunikasi yang lebih baik. Hal ini akan membuat kita merasa lebih mantap tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain yang bukan diri kita. Mari kita bahas sepuluh frasa yang sering diandalkan oleh orang yang canggung secara sosial dan apa yang bisa diucapkan sebagai gantinya.
1. “Maaf…”
Penggunaan kata “maaf” yang berlebihan dapat melatih orang lain melihat Anda sebagai gangguan, bukan kontribusi yang berharga. Apologi yang kronis justru memusatkan perhatian pada kesalahan yang Anda anggap Anda lakukan, bukan pada pesan yang ingin disampaikan. Coba ganti dengan “Terima kasih sudah menunggu” atau “Bolehkah saya menambahkan sesuatu?”.
2. “Mungkin aku terlalu memikirkannya.”
Melabeli diri sendiri sebagai “terlalu memikirkan” sesuatu berarti Anda sudah melemahkan argumen Anda sebelum didengar orang lain. Anda bisa saja melihat detail penting yang terlewatkan oleh kelompok Anda. Ganti dengan “Ada satu detail yang sedang saya pertimbangkan” untuk menyampaikan ide Anda tanpa meragukannya.
3. “Aku tidak ingin mengganggumu.”
Frasa ini memproyeksikan citra bahwa Anda adalah ketidaknyamanan bagi orang lain, padahal itu tidak benar. Jika Anda benar-benar membutuhkan sesuatu, mintalah dengan jelas. Coba ganti dengan “Apakah Anda punya waktu lima menit sore ini untuk melihat ini?”.
4. “Apakah itu masuk akal?”
Ungkapan ini, meskipun terdengar sopan, secara implisit menyiratkan bahwa penjelasan Anda mungkin membingungkan atau kurang jelas. Lebih baik ganti dengan “Pertanyaan apa yang Anda miliki?” atau “Bagian mana yang perlu kita bahas lebih lanjut?”.
5. “Aku cuma bercanda.”
Menggunakan “cuma bercanda” sebagai tameng ketika lelucon tidak berhasil hanya akan menghindari tanggung jawab atas komentar Anda. Lebih baik akui saja dengan jujur. Anda bisa berkata, “Candaanku tidak kena, salahku” lalu kembali ke percakapan utama.
6. “Lupakan saja.”
Mengatakan “lupakan saja” sering kali muncul saat kita merasa mengambil terlalu banyak ruang dalam percakapan. Namun, frasa ini justru mengajarkan orang lain untuk mengabaikan ide-ide Anda. Jika waktunya belum tepat, katakan “Aku punya ide, bisakah kita kembali membahasnya nanti?”.
7. “Aku buruk dalam mengingat nama.”
Menyatakan diri Anda memiliki identitas tetap (misalnya, buruk dalam sesuatu) menghentikan Anda untuk berlatih dan berkembang. Ganti dengan “Boleh ingatkan nama Anda?” dan coba gunakan nama mereka dalam kalimat berikutnya untuk membantu mengingat.
8. “Aku baik-baik saja.”
“Baik-baik saja” adalah jalan buntu percakapan yang sering digunakan untuk menghindari berbagi lebih lanjut. Jika Anda tidak ingin berbagi, tanyakan balik “Bagaimana minggu Anda?”. Jika ingin berbagi sedikit, katakan “Aku sedikit lelah hari ini, terima kasih sudah bertanya”.
9. “Aku tidak tahu harus berkata apa.”
Anda tidak perlu kata-kata ajaib; Anda hanya perlu langkah selanjutnya. Coba gunakan jembatan pertanyaan seperti “Ceritakan lebih banyak tentang bagian itu” atau “Apa yang membuat Anda memutuskan hal itu?”. Pertanyaan ini menunjukkan minat yang tulus.
10. “Aku memang canggung.”
Meskipun bertujuan untuk melucuti kecanggungan, deklarasi ini justru memperbesar ketidaknyamanan. Lebih baik gunakan kebenaran yang lebih lembut, misalnya, “Aku sedang mencoba untuk menyesuaikan diri.” Lalu, fokus pada tindakan seperti bernapas atau mengajukan pertanyaan lanjutan.
Kecanggungan sosial sering berasal dari prediksi negatif otak tentang hasil interaksi. Otak mencoba melindungi diri dengan penghindaran dan permintaan maaf yang berlebihan. Kenyataannya, ketakutan kita seringkali jauh dari realita.
Riset menunjukkan kita sering meremehkan seberapa besar orang lain menyukai kita setelah percakapan pertama. Kesadaran ini dapat mempermudah Anda untuk meninggalkan frasa-frasa pengaman dan memilih komunikasi yang lebih tenang. Perubahan kecil dalam ketepatan dan rasa menghormati diri sendiri dapat mengubah segalanya.

>
>
>

Saat ini belum ada komentar