Yayasan Bimasakti Peduli Negeri Perkuat Kolaborasi, Dorong Inovasi Pengelolaan Sampah Berkelanjuta
- account_circle Adis
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Yayasan Bimasakti Peduli Negeri terus mendorong lahirnya solusi nyata dalam mengatasi persoalan sampah melalui forum kolaborasi yang digelar di Pendopo Bimasakti Farm, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Kamis (24/6/2026).
Kegiatan yang bekerja sama dengan Perhimpunan Filantropi Indonesia itu mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, hingga pegiat sosial untuk membahas pengelolaan sampah yang lebih efektif.
Dalam forum tersebut, Yayasan Bimasakti Peduli Negeri juga memperkenalkan berbagai inovasi pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus membangun sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Sejumlah perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dari berbagai daerah di Jawa Timur turut hadir yakni DLH Mojokerto, Surabaya Kediri hingga kabupaten Tulungagung mengikuti diskusi.
Manager Tim Kerja Infrastruktur Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup Bappeda Jawa Timur, Kunarti Sri Rejeki, menilai forum yang digagas Yayasan Bimasakti Peduli Negeri menjadi ruang penting untuk menghadirkan terobosan baru dalam penanganan sampah.
“Pengelolaan sampah tanpa pilah yang disampaikan dalam forum ini merupakan inovasi yang dibutuhkan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Namun, berdasarkan kajian akademisi, kualitas produk hasil pengolahan tetap dipengaruhi oleh kondisi sampah yang dipilah atau tidak dipilah,” ujar Kunarti.
Ia menjelaskan, inovasi tersebut berpotensi menjadi solusi dalam mengolah residu sampah yang selama ini masih sulit ditangani. Menurutnya, meski berbagai strategi telah diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, laju timbulan sampah masih lebih cepat dibandingkan kapasitas pengolahannya.
“Meski berbagai metode telah dilakukan, tetap diperlukan inovasi baru karena kecepatan timbulan sampah masih belum seimbang dengan kemampuan pengolahannya. Masih ada jenis sampah tertentu yang memang tidak dapat dimanfaatkan kembali dan akhirnya harus dibuang,” katanya.
Sementara itu, Akademisi Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Airlangga, Dr. Rizky Amaliyah, menyampaikan bahwa tantangan terbesar pengelolaan sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemilahan sampah masih belum merata. Selain itu, masyarakat juga belum melihat manfaat ekonomi yang nyata dari penerapan ekonomi sirkular sehingga motivasi untuk memilah sampah masih rendah,” ungkap Rizky.
Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan sampah yang buruk dapat menimbulkan berbagai dampak serius bagi kesehatan maupun lingkungan, mulai dari pencemaran air dan tanah hingga masuknya mikroplastik ke rantai makanan.
“Jika polutan dan racun terus terakumulasi dalam tubuh manusia, dampaknya bisa merusak sistem hormonal dan meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk kanker,” tegasnya.
Ketua Yayasan Bimasakti Peduli Negeri, M. Adistya Dwi Kurniawan, mengatakan forum tersebut menjadi langkah untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan secara luas.
“Kami berharap berbagai gagasan dan teknologi yang diperkenalkan dalam forum ini dapat menjadi bagian dari solusi pengurangan sampah sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Adistya.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan sektor filantropi menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya inovasi yang tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.(ZACK)
- Penulis: Adis

>
