Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Ponorogo: Strategi yang Menjanjikan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo mencatatkan penurunan signifikan pada Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dalam evaluasi pembangunan kesehatan terbaru. Capaian positif ini menjadi landasan strategis untuk memperkuat layanan kesehatan dasar sebagai prioritas utama pada tahun anggaran 2026.
Data yang Menggembirakan
Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa kasus AKI di Bumi Reog turun menjadi lima kasus dibandingkan periode tahun 2024 yang mencapai 11 kasus. Penurunan tajam tersebut diikuti oleh berkurangnya angka kematian bayi menjadi 96 kasus dari sebelumnya tercatat sebanyak 121 kasus. Angka-angka ini menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan dalam sistem kesehatan ibu dan anak di wilayah tersebut.
Peran Pemerintah Daerah
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengawal tren penurunan ini agar derajat kesehatan masyarakat terus meningkat. Ia menyatakan bahwa intervensi medis tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus dimulai secara intensif sejak masa pra-kehamilan.
“Program pemeriksaan kesehatan gratis dari pemerintah pusat harus dimanfaatkan maksimal. Pemenuhan gizi ibu hamil dan pendampingan keluarga juga wajib diperkuat agar stunting, AKB, dan AKI bisa ditekan,” kata Bunda Rita, sapaan Plt Bupati, ditulis Rabu (18/2/2026).
Pentingnya Partisipasi Keluarga
Bunda Rita menambahkan bahwa keterlibatan aktif keluarga sangat krusial untuk memastikan setiap ibu hamil rutin memeriksakan kandungan ke fasilitas kesehatan. Menurutnya, langkah pencegahan di tingkat dasar jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan penanganan medis saat kondisi pasien sudah kritis.
Kepala Dinas Kesehatan Ponorogo, Dyah Ayu Puspaningarti, menjelaskan bahwa stabilitas kesehatan ibu memiliki dampak langsung terhadap peluang hidup bayi yang baru dilahirkan. Penurunan angka kematian ibu secara sistematis akan meminimalisir berbagai risiko komplikasi fatal yang sering muncul selama proses persalinan berlangsung.
“Masih ada bayi yang tidak terselamatkan. Ini yang terus kami evaluasi,” ungkap Dyah saat memberikan paparan mengenai tantangan layanan kesehatan di wilayah Kabupaten Ponorogo.
Evaluasi Mendalam dan Tantangan yang Dihadapi
Evaluasi mendalam mengungkap bahwa mayoritas kematian bayi terjadi pada fase neonatal atau rentang usia kritis antara nol hingga tujuh hari pertama. Periode tersebut sangat rentan dan dipengaruhi secara dominan oleh kondisi fisik ibu selama mengandung serta faktor lingkungan sosial ekonomi.
Dinas Kesehatan kini tengah mengoptimalkan sistem skrining dini untuk memetakan ibu hamil yang memiliki kategori risiko tinggi di setiap desa. Selain itu, peningkatan kualitas layanan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama terus dipacu untuk menjamin keselamatan proses persalinan bagi warga.
Strategi yang Terus Dikembangkan
“Karena itu, Dinkes memperkuat skrining kehamilan berisiko tinggi, peningkatan kualitas layanan persalinan, hingga pemantauan intensif bayi baru lahir,” tegas Dyah menutup penjelasannya.
Pemkab Ponorogo berharap kolaborasi solid antara tenaga medis dan seluruh lapisan masyarakat dapat menekan angka kematian ibu serta bayi ke titik terendah. Melalui strategi integrasi dari hulu ke hilir, pemerintah optimis setiap ibu dapat melahirkan dengan selamat dan bayi tumbuh dengan sehat.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar