RTRW Surabaya 2025–2045 Dilirik CLC Singapura: 3 Sektor Strategis Jadi Sorotan Kota Layak Huni

Intisari Berita:

  • Pemkot Surabaya bersama delegasi Centre for Liveable Cities (CLC) Singapura mematangkan arah RTRW Surabaya 2025–2045.
  • CLC Singapura menaruh minat besar pada tiga sektor strategis: pengelolaan air baku, tata kelola sampah terpadu, dan ruang terbuka hijau (RTH).
  • Sebanyak 20 delegasi diajak meninjau Kebun Raya Mangrove, Taman Harmoni, hingga Bank Sampah Induk DLH guna menjajaki replikasi kota layak huni.

DIAGRAMKOTA.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi menerima kunjungan kehormatan dari delegasi Centre for Liveable Cities (CLC) Singapura pada Senin (12/10/2026). Dalam pertemuan bilateral tersebut, Pemkot bersama perwakilan lembaga pengembangan kota layak huni asal Negeri Singa ini menggelar diskusi mendalam seputar draf Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya periode 2025–2045. Forum ini difokuskan untuk menyelaraskan pertukaran gagasan serta praktik terbaik perencanaan kota metropolitan hingga dua dekade mendatang.

Dari hasil telaah draf tata ruang tersebut, pihak CLC Singapura secara khusus menaruh ketertarikan pada tiga sektor utama pembangunan Surabaya. Ketiga pilar krusial tersebut mencakup proyek pemenuhan air baku, sistem pengolahan sampah modern, serta optimalisasi penyediaan ruang terbuka hijau (RTH).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Maria Theresia Ekawati Rahayu, mengungkapkan bahwa kehadiran delegasi asing ini menjadi ajang strategis untuk menguji keandalan rencana jangka panjang kota. Singapura menunjukkan atensi tinggi terhadap keberlanjutan pasokan sumber daya air bagi masyarakat urban di masa depan.

“Mereka tertarik pada perencanaan pemenuhan air baku untuk Kota Surabaya. Waktu pertemuan itu mereka juga menanyakan bagaimana rencana Kota Surabaya untuk mengelola kebutuhan air bersih di tahun 2045 dan juga rencana pengolahan air limbah sampai dengan tahun 2045,” beber Maria, Selasa (13/10/2026).

Tinjau Langsung KRM, Taman Harmoni, dan Bank Sampah DLH

Selain sektor air baku, delegasi CLC Singapura melayangkan apresiasi terhadap luasan dan kualitas ruang terbuka hijau di Kota Pahlawan. Lembaga tersebut menilai ketersediaan serta pengelolaan RTH di Surabaya saat ini telah berada di atas rata-rata pencapaian kota-kota besar lain di Indonesia.

Guna memberikan gambaran empiris di lapangan, Pemkot Surabaya memboyong sebanyak 20 orang anggota delegasi Singapura untuk melakukan inspeksi langsung ke beberapa titik konservasi dan pengelolaan lingkungan unggulan, antara lain:

  • Kebun Raya Mangrove (KRM): Kawasan pelestarian ekosistem pesisir dan benteng abrasi alami Surabaya timur.
  • Taman Harmoni: Contoh sukses revitalisasi lahan bekas pembuangan sampah yang disulap menjadi taman kota asri.
  • Bank Sampah Induk DLH: Sentra edukasi dan percontohan reduksi limbah rumah tangga di kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya.

“Jadi yang mereka sorot di Kota Surabaya ini, selain air bersih tadi, yakni penyediaan ruang terbuka hijau dan pengelolaan sampah. Sampai hari ini kan kita juga memiliki 12 TPS 3R (reduce, reuse, recycle),” terang Maria.

Rencana Tambahan Insinerator dan Opsi Hunian Bertingkat

Dalam sesi pemaparan teknis, Maria menyebutkan bahwa pengelolaan sampah dan penataan kawasan permukiman padat tetap menjadi tantangan utama bagi kota metropolis sebesar Surabaya. Keberhasilan Singapura dalam tata kelola sampah terpadu dan permukiman vertikal dipandang sebagai rujukan ideal yang dapat direplikasi.

Saat ini, fasilitas pengolahan sampah modern berbasis pembakaran suhu tinggi baru terpusat di satu unit insinerator kawasan Benowo. Pemkot Surabaya telah merancang ekspansi infrastruktur dengan rencana penambahan satu unit insinerator baru yang akan dibangun di wilayah Surabaya barat.

Di samping urusan sampah, penataan permukiman padat penduduk yang belum memenuhi standar kelayakan menjadi pekerjaan rumah prioritas ke depan. Keterbatasan ruang horizontal mendorong pemkot mengkaji formula hunian vertikal terintegrasi.

“Kalau kita ingin menjadikan kota ini lebih terstruktur, layak huni lagi, permukiman-permukiman prioritas yang belum layak dan sesuai standarnya ya harus dipikirkan ke depannya. Mungkin ada opsi nantinya kita bikin bertingkat, karena sulit ya kalau menata jalan yang sempit, salurannya sudah tersumbat, mobilitasnya itu susah, tantangannya di situ,” jelas mantan Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah tersebut.

RTRW Surabaya: Adopsi Standar Global Menuju Kota Layak Huni Berkelanjutan

Maria berharap transfer pengetahuan dari CLC Singapura mampu memperkaya formulasi kebijakan dalam dokumen final RTRW 2025–2045. Standar dan model keberhasilan tata kota Singapura diharapkan dapat diadaptasi secara kontekstual dengan karakteristik lokal Kota Surabaya.

“Harapan kita, Singapura bisa memberikan ilmu tentunya, praktik-praktik keberhasilan perencanaan kota yang mereka terapkan di sana. Tentunya Kota Surabaya juga bisa mengacu dan menerapkannya di sini. Karena kita tahu Kota Surabaya ini di atas rata-rata menurut mereka, itu menjadi semangat bagi kita untuk menuju kota yang lebih bagus lagi,” pungkas Maria.