Haji Isam Akuisisi 30,25% Saham BYAN Senilai Rp26 T

Ringkasan Berita:

  • Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam) mengakuisisi 10,084 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai Rp26,10 triliun (setara 30,25 persen kepemilikan).
  • Aksi korporasi ini didukung struktur pembiayaan Bank Mandiri melalui skema dua Special Purpose Vehicle (SPV) dan pinjaman antarentitas (intercompany loan).
  • Haji Isam menjaminkan saham PGUN (92,38 persen) dan JARR (86,64 persen) dengan total nilai agunan Rp80,33 triliun atau mencatatkan coverage ratio 3,08 kali lipat dari nilai akuisisi.

DIAGRAMKOTA.COM — Pasar modal Indonesia diguncang transaksi bernilai jumbo setelah pengusaha terkemuka asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, resmi menuntaskan akuisisi sebanyak 10,084 miliar lembar saham emiten batu bara raksasa, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), pada Rabu (7/10/2026). Aksi korporasi berskala masif ini mengukuhkan kepemilikan saham strategis sebesar 30,25 persen di emiten berkode saham BYAN tersebut.

Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, transaksi perpindahan kepemilikan saham tersebut dieksekusi pada level harga Rp2.588 per lembar saham. Dengan penetapan harga patokan tersebut, total nilai transaksi akuisisi ini menembus angka fantastis sebesar Rp26,10 triliun, atau setara dengan 1,65 miliar dollar Amerika Serikat (AS).

Haji Isam

“Haji Isam telah mengakuisisi 10,084 miliar saham BYAN pada 7 Oktober 2026, setara dengan 30,25 persen kepemilikan, dengan harga transaksi Rp 2.588/saham. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 26,10 triliun atau setara 1,65 miliar dollar Amerika Serikat (AS),” jelas analis Kiwoom Sekuritas dalam laporannya, Kamis (8/10/2026).

Analisis Valuasi Transaksi dan Posisi Strategis di Sektor Energi

Kiwoom Sekuritas menilai masuknya Haji Isam ke dalam kepemilikan substansial BYAN merupakan langkah ekspansi anorganik yang sangat strategis di sektor komoditas energi nasional. Kepemilikan sebesar 30,25 persen langsung menempatkan Haji Isam sebagai salah satu pemegang kendali utama di perseroan.

Jika ditinjau dari parameter valuasi fundamental emiten, penetapan harga beli di level Rp2.588 per lembar saham mencerminkan valuasi rasio harga terhadap laba bersih (Price to Earnings Ratio/PER) sebesar 6,2 kali, serta rasio harga terhadap nilai buku (Price to Book Value/PBV) sebesar 1,9 kali.

Tingkat valuasi ini dinilai cukup atraktif bagi investor strategis di tengah dinamika pasar batu bara dan diversifikasi portofolio energi di tanah air.

Struktur Rekayasa Finansial: Gunakan Dua SPV dan Skema Intercompany Loan

Salah satu sorotan utama dalam aksi korporasi bernilai puluhan triliun rupiah ini adalah arsitektur rekayasa finansial yang menopang pembiayaannya. Transaksi ini didesain menggunakan struktur pembiayaan bertingkat melalui dua entitas kendaraan khusus atau Special Purpose Vehicle (SPV), yakni Acquisition SPV dan Financing SPV.

Mekanisme aliran dananya diatur secara sistematis sebagai berikut:

  • Financing SPV: Bertugas mengamankan fasilitas plafon pembiayaan kredit perbankan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan menyertakan portofolio saham sebagai jaminan.
  • Intercompany Loan: Dana pembiayaan yang telah diperoleh Financing SPV dari Bank Mandiri dialirkan kepada Acquisition SPV melalui mekanisme pinjaman antarentitas internal perusahaan.
  • Acquisition SPV: Bertindak sebagai eksekutor langsung di bursa yang memborong 10,084 miliar saham BYAN senilai Rp26,10 triliun ke rekening efek penampung.

“Acquisition SPV membeli saham BYAN senilai Rp 26,10 triliun. Pembiayaan didukung oleh Financing SPV yang memperoleh fasilitas dari BMRI dengan collateral berupa saham PGUN dan JARR,” papar analis Kiwoom Sekuritas.

Agunan Saham PGUN dan JARR Rp80,33 Triliun: Coverage Ratio Tembus 3,08 Kali

Guna memperoleh fasilitas kredit jumbo dari Bank Mandiri, struktur pembiayaan ini ditopang oleh penjaminan saham dari dua emiten perkebunan dan agribisnis yang terafiliasi dengan lini bisnis Jhonlin Group milik Haji Isam, yakni PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR).

Perjanjian penjaminan (collateral) saham tersebut telah resmi diikat kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sejak 30 September 2026. Porsi saham yang dijaminkan mencakup:

  • Sebanyak 92,38 persen dari total modal disetor dan ditempatkan pada saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), dengan taksiran nilai jaminan mencapai Rp51,70 triliun.
  • Sebanyak 86,64 persen dari total modal disetor dan ditempatkan pada saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), dengan estimasi nilai agunan sebesar Rp28,63 triliun.

Secara kumulatif, total nilai jaminan dari kedua kantong saham perkebunan sawit tersebut mencapai angka Rp80,33 triliun atau setara dengan 5,08 miliar dollar AS per 30 September 2026.

Ketahanan Risiko Finansial yang Tinggi

Dengan total agunan yang menyentuh angka Rp80,33 triliun berbanding nilai akuisisi BYAN yang sebesar Rp26,10 triliun, transaksi ini mencatatkan rasio penjaminan (collateral coverage ratio) yang sangat solid, yakni mencapai 3,08 kali lipat.

Tingginya rasio proteksi agunan ini mencerminkan kapasitas likuiditas dan aset produktif dari gurita bisnis Haji Isam dalam memitigasi risiko kredit perbankan, sekaligus memvalidasi transaksi ini sebagai salah satu kesepakatan merger dan akuisisi (M&A) terbesar yang pernah tercatat di panggung Bursa Efek Indonesia.