DIAGRAMKOTA.COM — Partai Golkar Surabaya mulai memanaskan mesin politik menuju Pemilu 2029. Konsolidasi organisasi, pengabdian kepada masyarakat hingga penguatan struktur di tingkat kecamatan dan kelurahan akan menjadi fokus utama Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Partai Golkar Kota Surabaya.
Rakerda tersebut dijadwalkan berlangsung Minggu (13/9/2026) di Hotel Wyndham, Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Agenda ini sekaligus dirangkai dengan pengukuhan pengurus Pimpinan Kecamatan (PK) Partai Golkar masa bakti 2026–2031.
Dalam konferensi pers menjelang pelaksanaan Rakerda, Jumat (11/9/2026), Golkar Surabaya menegaskan forum tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi. Rakerda diarahkan menjadi momentum mengevaluasi program sekaligus menyusun strategi baru yang lebih efektif dan memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Tema yang diusung cukup jelas: “Penguatan Konsolidasi Organisasi, Pengabdian kepada Masyarakat dan Pemenangan Partai Golkar Menuju Pemilu 2029.”
Ketua Panitia Pelaksana Rakerda DPD Partai Golkar Surabaya, Drs. Agoeng Prasodjo, mengatakan evaluasi program menjadi salah satu agenda penting. Program yang dinilai berhasil dan mendapat respons positif masyarakat akan dilanjutkan, sedangkan program yang tidak efektif akan dievaluasi bahkan dihentikan.
“Tujuannya mengevaluasi program kerja kemarin, kemudian menyusun dan merumuskan program kerja ke depan. Yang paling penting memperkuat sinergi dan koordinasi antarbidang di lingkungan Partai Golkar Surabaya,” ujar Agoeng.
Menurutnya, Golkar tidak ingin mempertahankan program hanya karena telah menjadi kebiasaan organisasi. Ukurannya harus jelas, yakni sejauh mana program tersebut diterima dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kalau program ketika dilaksanakan ternyata mendapat respons suara lebih banyak, program itu yang harus kita pakai dan jalankan. Tetapi kalau ada yang kurang berkenan di masyarakat, kita drop,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan arah baru konsolidasi Golkar Surabaya. Mesin partai tidak hanya dituntut aktif ketika memasuki tahun politik, tetapi harus hadir secara konsisten melalui kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pengabdian kepada masyarakat pun ditempatkan sebagai salah satu instrumen penting untuk memperkuat keberadaan partai. Golkar ingin memastikan struktur organisasi tidak berhenti pada persoalan administratif, tetapi benar-benar bergerak dan memiliki hubungan langsung dengan masyarakat.
Di sisi lain, penguatan struktur menjadi pekerjaan penting menjelang Pemilu 2029. Konsolidasi akan dilakukan mulai dari tingkat DPD, kecamatan hingga kelurahan, disertai penguatan koordinasi antarbidang serta seluruh organisasi yang berada dalam ekosistem Partai Golkar.
Rakerda juga akan mempertemukan berbagai unsur kekuatan organisasi Golkar. Peserta berasal dari Dewan Pertimbangan Partai Golkar Kota Surabaya, DPD Partai Golkar Jawa Timur, DPD Partai Golkar Surabaya hingga jajaran Pimpinan Kecamatan.
Tak hanya struktur internal, organisasi pendiri dan organisasi yang didirikan Partai Golkar juga dilibatkan. Di antaranya SOKSI, KOSGORO, MKGR, AMPI, AMPG, KPPG, MDI, Al Hidayah, HWK dan Satkar Ulama.
Sementara itu, seluruh Ketua Pimpinan Kelurahan (PL) Partai Golkar se-Kota Surabaya dijadwalkan hadir sebagai peninjau. Fraksi Partai Golkar DPRD Surabaya juga menjadi bagian dari forum Rakerda.
Menariknya, Golkar Surabaya menegaskan Rakerda kali ini tidak diarahkan untuk membahas suksesi politik atau pencalonan tokoh tertentu. Fokus forum tetap pada evaluasi, penyusunan program, konsolidasi organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Namun, arah akhirnya tetap tidak bisa dilepaskan dari target politik 2029.
“Semua partai masih ujungnya ke pemenangan tahun 2029,” tegas Agoeng.
Dengan pengukuhan PK masa bakti 2026–2031, Golkar Surabaya sekaligus ingin memastikan struktur di tingkat kecamatan memiliki legitimasi dan arah kerja yang jelas. Struktur tersebut diharapkan menjadi salah satu ujung tombak dalam menggerakkan organisasi hingga tingkat bawah.
Rakerda akan dibuka Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, H. Ali Mufthi. Wali Kota Surabaya juga telah diundang dan disebut menyatakan kesediaannya untuk hadir.
Kini tantangannya bukan sekadar menghasilkan rekomendasi di atas kertas. Golkar Surabaya harus mampu menerjemahkan hasil Rakerda menjadi program konkret, terukur dan benar-benar terasa di tengah masyarakat.
Sebab, menuju Pemilu 2029, konsolidasi tanpa kerja nyata hanya akan menjadi rutinitas organisasi. Sebaliknya, struktur yang solid, pengabdian yang konsisten dan program yang diterima masyarakat dapat menjadi modal penting bagi Golkar untuk membangun kembali kekuatan politiknya di Kota Surabaya.
Tiga kata kunci Rakerda Golkar Surabaya pun menjadi jelas: konsolidasi, pengabdian dan pemenangan 2029. (dk/nw)
