DIAGRAMKOTA.COM – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Kota Luar Biasa (Muskotlub) Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Surabaya yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Agustus 2026, Ketua Caretaker PTMSI Kota Surabaya Samsurin mulai melakukan langkah-langkah konsolidasi organisasi melalui verifikasi data klub anggota, pendataan pelatih dan atlet, serta inventarisasi sarana dan prasarana latihan sebagai dasar penataan organisasi yang lebih profesional.
Samsurin, yang juga menjabat sebagai Ketua Pengcab Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Surabaya serta Ketua Bidang Organisasi KONI Kota Surabaya, mengatakan bahwa setelah menerima Surat Keputusan (SK) sebagai Ketua Caretaker PTMSI Kota Surabaya pada 3 Juli 2026, dirinya langsung bergerak melakukan konsolidasi keanggotaan melalui proses verifikasi dan validasi terhadap klub-klub yang selama ini menjadi bagian dari PTMSI Kota Surabaya maupun klub yang mengajukan permohonan menjadi anggota baru.

Selama sembilan hari, mulai 4 hingga 12 Juli 2026, Samsurin bersama tim melakukan kunjungan langsung ke berbagai klub tenis meja yang tersebar di Kota Surabaya. Kegiatan tersebut bertujuan memperoleh data faktual mengenai kondisi organisasi, jumlah atlet dan pelatih, fasilitas latihan, hingga kebutuhan pembinaan di lapangan.
Beberapa klub yang dikunjungi antara lain PTM CLS Cahaya Lestari di Jalan Kertajaya Indah, PTM Sahabat di Kompleks Mall Gaza Kapas Krampung, PTM Sasana Bhakti (Sakti) di Bascamp Jagalan, PTM Rajawali di pusat latihan Jalan Buduran samping Pasar Atom, PTM Cheng Hoo di Gedung Sarana Olahraga Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo, PTM HCIYS (Harapan Cerah Insan Yang Sejati) yang berlatih di lantai 8 Gedung Universitas Katolik Widya Mandala Kampus Dr. Ir. Soekarno MERR Surabaya, PTM CHYNBAR di kawasan Tegalsari, hingga PTM Melati di Kedinding, Kenjeran, Surabaya.
“Hasil kunjungan ini memberikan gambaran faktual bahwa kondisi pembinaan tenis meja di Surabaya belum terorganisir secara optimal. Kami ingin memastikan seluruh klub yang aktif benar-benar terdata dengan baik sehingga ke depan PTMSI Kota Surabaya memiliki database yang akurat untuk memudahkan monitoring sumber daya atlet maupun pelatih. Dengan demikian, program organisasi dan program prestasi memiliki integritas sesuai harapan KONI Kota Surabaya, Pengprov PTMSI Jawa Timur, serta target Wali Kota Surabaya menghadapi Porprov X Jawa Timur Tahun 2027,” ujar Samsurin.
Menurutnya, publikasi hasil kunjungan melalui media sosial mendapat respons positif dari sejumlah klub yang selama ini belum tercatat sebagai anggota resmi PTMSI Kota Surabaya. Di antaranya PTM Macan Putih di Sawahan, PTM Semut di Semolowaru, PTM S3, serta PTM Melati yang menyatakan keinginan bergabung dalam kepengurusan PTMSI Kota Surabaya.
Respons tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa insan tenis meja Surabaya menginginkan organisasi yang terbuka, aktif, transparan, serta mampu mengakomodasi kepentingan seluruh klub, pelatih, dan atlet.
Dalam proses verifikasi tersebut, Samsurin juga menemukan sejumlah persoalan mendasar yang selama ini menjadi kendala pembinaan atlet tenis meja di Surabaya. Salah satunya adalah belum adanya sinergi yang optimal antara dunia pendidikan dengan pembinaan olahraga.
Menurutnya, banyak atlet pelajar yang mengalami benturan antara jadwal belajar di sekolah dengan jadwal latihan maupun pemusatan latihan sehingga pihak sekolah kerap tidak memberikan dispensasi kepada atlet yang harus mengikuti pembinaan ataupun kejuaraan.
Padahal, atlet-atlet tersebut memiliki potensi besar mengharumkan nama Kota Surabaya pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA), Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), hingga kejuaraan nasional maupun internasional.
“Kita memiliki atlet-atlet yang luar biasa. Jangan sampai potensi mereka justru dimanfaatkan daerah lain karena kurangnya perhatian dan dukungan di Surabaya. Perlu ada sinergi antara sekolah, Dinas Pendidikan, KONI, PTMSI, orang tua atlet, hingga Pemerintah Kota Surabaya agar atlet dapat berkembang tanpa harus terkendala administrasi pendidikan,” tegasnya.
Ia berharap adanya kolaborasi antara Dinas Pendidikan Kota Surabaya, KONI Kota Surabaya, sekolah-sekolah, Pengcab PTMSI, orang tua atlet, serta Pemerintah Kota Surabaya dalam membangun sistem pembinaan atlet pelajar yang berkelanjutan.
Selain persoalan pendidikan, Samsurin juga memberikan perhatian serius terhadap kondisi sarana dan prasarana latihan yang dinilai masih belum representatif. Menurutnya, sebagai kota yang telah berkali-kali menjadi juara umum Porprov dan akan kembali menjadi tuan rumah pada tahun depan, Surabaya seharusnya memiliki fasilitas olahraga bertaraf lebih baik.
Beberapa lokasi latihan seperti PTM Sakti, PTM CHYNBAR, dan PTM Melati dinilai membutuhkan rehabilitasi maupun peningkatan fasilitas agar para atlet memperoleh kenyamanan dan kualitas latihan yang optimal.
“Surabaya memiliki banyak atlet tenis meja yang telah mengukir prestasi mulai tingkat daerah, nasional, ASEAN hingga internasional. Bahkan berbagai turnamen internasional juga sering digelar di Kota Pahlawan. Sangat disayangkan apabila seluruh potensi tersebut tidak didukung oleh komunikasi dan fasilitas yang memadai,” katanya.
Selama proses verifikasi, Samsurin juga berhasil menghimpun data pelatih, atlet, serta administrasi masing-masing klub. Seluruh data tersebut nantinya akan dibawa dalam forum pleno Muskotlub sebagai dasar penetapan peserta yang memiliki hak suara sekaligus menjadi acuan penyusunan arah kebijakan pembinaan PTMSI Kota Surabaya ke depan.
Ia berharap seluruh rangkaian Musyawarah Kota Luar Biasa dapat berlangsung secara demokratis, transparan, kondusif, serta menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa tenis meja Surabaya kembali berjaya.
“Saya berharap Muskotlub nanti menghasilkan ketua umum beserta pengurus yang memiliki integritas, komitmen, mampu menyediakan waktu, serta mempunyai kemampuan membangun sinergi dengan berbagai lembaga demi kemajuan tenis meja Surabaya. Yang paling penting adalah kepentingan prestasi atlet harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Menurut Samsurin, validasi organisasi juga menjadi langkah penting untuk memastikan atlet yang nantinya masuk dalam program pusat latihan cabang benar-benar dipilih berdasarkan prestasi, kompetensi, dan hasil monitoring yang objektif.
Langkah konsolidasi organisasi, pendataan klub secara menyeluruh, serta penguatan sinergi dengan pemerintah dan dunia pendidikan tersebut diharapkan menjadi fondasi baru bagi PTMSI Kota Surabaya dalam membangun sistem pembinaan yang lebih profesional, transparan, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan prestasi atlet menuju Porprov X Jawa Timur Tahun 2027 serta berbagai kejuaraan tingkat nasional maupun internasional.(Dk/tgh)























