Ringkasan Berita:
-
Ketua ESI Surabaya Achmad Nurdjayanto menyesalkan keputusan Dispendik Surabaya yang menolak Mobile Legends dan E-sport masuk ekstrakurikuler SD-SMP.
-
ESI menilai kehadiran ekskul justru menjadi wadah terukur untuk mengontrol durasi bermain anak, mencegah kecanduan, dan mengarahkan gim menjadi olahraga prestasi.
-
ESI Surabaya menyayangkan tidak diajak duduk bersama oleh Pemkot Surabaya serta siap menerjunkan atlet dan pelatih bersertifikat sebagai guru pembina di sekolah.
Surabaya, Diagramkota.com — Ketua E-sports Indonesia (ESI) Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto, menanggapi langkah Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febria Rachmanita, yang memastikan tidak akan memasukkan Mobile Legends maupun E-sport sebagai kegiatan ekstrakurikuler di jenjang SD dan SMP.
Keputusan Dispendik tersebut didasari oleh kekhawatiran Pemkot Surabaya terhadap risiko kecanduan gim daring serta potensi menurunnya konsentrasi belajar para siswa.
Achmad menegaskan pihaknya menghormati kewenangan Pemkot Surabaya. Kendati demikian, ia sangat menyayangkan keputusan tersebut diambil secara sepihak tanpa melibatkan organisasi cabang olahraga (cabor) resmi E-sport untuk merumuskan konsep pembinaan yang ramah anak.
“Kami sebagai pegiat olahraga E-sport tentunya sangat menyesalkan keputusan tersebut. Seharusnya kami sebagai cabang olahraga diajak duduk bersama terlebih dahulu untuk membahas konsep olahraga yang ramah anak. Kehadiran ekstrakurikuler justru diharapkan menjadi wadah pembinaan bakat, minat, dan prestasi siswa secara lebih terukur,” ujar Achmad, Rabu (29/7/2026).
Ekskul Diklaim Jadi Solusi Kontrol Waktu Bermain Anak
Menurut Achmad, derasnya arus teknologi digital dan gim daring saat ini sudah menjadi realitas yang tidak mungkin dibendung atau ditolak sepenuhnya. Pendekatan yang dinilai paling bijak adalah merangkul serta mengarahkan aktivitas anak agar memiliki nilai edukatif dan berorientasi prestasi.
Beberapa catatan penting argumen ESI Kota Surabaya:
-
Pengawasan Jam Bermain: Melalui ekskul di sekolah, jadwal bermain gim anak menjadi teratur dan terpola sehingga orang tua lebih mudah mengontrol waktu anak di rumah.
-
Pelatih Berlisensi: ESI Surabaya siap menerjunkan atlet dan pelatih resmi sebagai guru pembina yang dibekali pemahaman gaming sehat, bertanggung jawab, dan tidak berlebihan.
-
Peluang Kerja Atlet: Pembentukan ekskul di lingkungan sekolah membuka lapangan kerja baru bagi para mantan atlet E-sport untuk menjadi pembina bakat usia dini.
-
Potensi Tingginya Tingkat Peminat: Gelaran turnamen resmi seperti Piala Wali Kota Surabaya menunjukkan besarnya animo dan potensi atlet muda jika dibina lewat sistem yang benar.
“Game bisa dimainkan kapan saja dan di mana saja sehingga pengawasan menjadi sulit. Mustahil jika kita hanya memilih menolak. Yang seharusnya dilakukan adalah merangkul dan mengakomodasinya menjadi wadah prestasi dengan waktu bermain yang tepat,” tegasnya.
Buka Ruang Dialog Dispendik dan ESI Surabaya
Achmad berharap Pemkot Surabaya mau membuka ruang dialog bersama ESI Surabaya agar pengembangan bakat digital sports di Kota Pahlawan dapat berjalan seiring dengan perlindungan tumbuh kembang dan pendidikan karakter siswa.
