Harga Cabai Melonjak Tajam di Surabaya, Pengaruh Ramadan 1447 Hijriah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Peningkatan harga cabai rawit merah di wilayah Surabaya mencuri perhatian masyarakat, terutama menjelang bulan puasa. Dalam beberapa hari terakhir, harga komoditas ini melonjak drastis hingga mencapai Rp 120 ribu per kilogram. Fenomena ini terjadi di berbagai pasar tradisional, termasuk Pasar Pucang Anom dan Pasar Keputran.
Kenaikan Harga yang Tidak Terduga
Menurut Maysaroh, seorang pedagang cabai di Pasar Pucang Anom, kenaikan harga cabai tidak bisa diprediksi dengan pasti. Ia menyebutkan bahwa sebelumnya, harga cabai hanya berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram. Namun, saat ini, harga telah meningkat dua kali lipat. Bahkan, harga cabai kini lebih mahal dibanding daging sapi yang seharga Rp 110 ribu per kilogram.
“Kenaikan ini terjadi secara tiba-tiba. Saya sendiri tidak mengetahui penyebab pastinya, tapi dari para tengkulak, stok cabai sedang langka,” ujarnya.
Stabilnya Harga Bahan Pokok Lain
Meski harga cabai naik signifikan, Maysaroh mengungkapkan bahwa harga bahan pokok lainnya relatif stabil selama pekan pertama Ramadan. Misalnya, harga bawang merah mengalami kenaikan kecil, yaitu sekitar Rp 5 ribu per kilogram, dari Rp 40 ribu menjadi Rp 45 ribu. Sementara itu, bawang putih, telur ayam, beras, dan minyak goreng masih berada dalam kisaran harga yang wajar.
Penyebab Minimnya Pasokan Cabai
Juni, seorang pedagang cabai di Pasar Keputran, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai dipengaruhi oleh minimnya pasokan dari para petani. Menurutnya, banyak petani yang jarang melakukan panen pada awal Ramadan.
“Pada awal-awal puasa, petani cabai biasanya tidak banyak melakukan panen. Hal ini membuat pasokan cabai menjadi terbatas, sehingga harga melonjak,” jelas Juni.
Permintaan Tetap Tinggi Meski Harga Mahal
Meskipun harga cabai sangat tinggi, permintaan tetap tinggi. Juni menyatakan bahwa pembeli masih ramai mencari cabai rawit meskipun harganya mahal.
“Alhamdulillah, meskipun mahal, permintaan tetap baik. Banyak orang tetap membeli cabai untuk kebutuhan masakan selama Ramadan,” tambahnya.
Kondisi Pasar Selama Ramadan
Selain harga cabai, kondisi pasar selama Ramadan juga menunjukkan peningkatan permintaan terhadap berbagai kebutuhan pokok. Namun, tren kenaikan harga hanya terjadi pada cabai rawit, sementara komoditas lainnya relatif stabil. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga cabai merupakan fenomena yang spesifik dan tidak merata.
Peran Petani dan Pasokan
Kenaikan harga cabai juga menunjukkan pentingnya peran petani dalam menjaga stabilitas pasokan. Jika pasokan tidak cukup, maka harga akan terus meningkat, terlebih jika permintaan tetap tinggi. Oleh karena itu, perlu adanya koordinasi antara petani, pedagang, dan pemerintah untuk memastikan pasokan cabai tetap lancar selama masa puasa.
Lonjakan harga cabai rawit di Surabaya menjelang Ramadan 1447 Hijriah menunjukkan ketidakstabilan pasokan dan permintaan yang tinggi. Meskipun harga meningkat drastis, permintaan tetap tinggi, menunjukkan bahwa cabai tetap menjadi bahan pokok yang penting bagi masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya bersama antara pemerintah dan pelaku usaha agar pasokan cabai dapat terjaga dengan baik.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar