Kota Lama Surabaya: Lebih dari Sekadar Bangunan Kolonial

BUDAYA745 Dilihat

DIAGRAMKOTA.COM – Pengunjung Kota Lama Surabaya, terutama yang berjalan di sepanjang jalan Mliwis, tampaknya tidak pernah berhenti mengalir sejak sore hingga malam hari. Namun, perhatian mereka tertuju pada sebuah rumah Indische dari abad 19, bukan hanya karena fisik bangunannya, tetapi karena aktivitas budaya yang berlangsung di dalamnya.

Di dalam rumah itu, berlangsung kegiatan Sinau Aksara Jawa. Para peserta duduk bersila di atas lantai yang bertikar, di bawah langit-langit kayu jati dari sebuah bangunan kuno di jalan Mliwis. Arsitektur rumah yang simetris ini melambangkan keseimbangan manusia.

Kegiatan literasi Sinau Aksara Jawa ini menjadi pemandangan klasik dengan backdrop berukuran 2 meter x 1 meter berwarna krem dengan tulisan aksara Jawa warna hitam. Pemandangan ini menarik perhatian pejalan kaki yang menikmati suasana Kota Lama Surabaya.

Baca Juga :  Semarakkan Wisata Kota Lama Surabaya, A Hermas Thony Impikan Revitalisasi 'Jembatan Angkat' Petekan

Di teras rumah Indische yang berpilar megah, kerumunan pengunjung melihat dan mengabadikan momen kultural ini. Tidak hanya memotret dan merekam, beberapa di antaranya bahkan ikut bergabung untuk belajar Aksara Jawa. Seperti sebuah keluarga dari Banyuurip Surabaya. Suci (ibu), Rara (anak perempuan), dan Rere (anak perempuan) ikut bergabung dalam kegiatan ini.

“Ini menjadi nostalgia. Dulu waktu kecil, saat SD, saya belajar membaca dan menulis Aksara Jawa. Sekarang sudah lama tidak, dan banyak yang lupa. Tadi ikut belajar lagi, dan saya menulis lagi. Aduh senangnya. Apalagi belajarnya di rumah kuno seperti ini,” jelas Suci yang mengajak kedua putrinya.

Kedua putri Suci, Rara dan Rere, merasakan atmosfer klasik dari Kota Lama Surabaya dengan ikut belajar bersama warga lainnya.

Baca Juga :  Semarakkan Wisata Kota Lama Surabaya, A Hermas Thony Impikan Revitalisasi 'Jembatan Angkat' Petekan

“Aduh, senang sekali ikut serta. Saya merasakan atmosfer Kota Lama Surabaya. Tidak hanya melihat bangunan, tapi merasakan belajar yang terasa klasik ini,” kata Rere.

Aktivitas Sinau Aksara Jawa ini juga menarik perhatian wisatawan asal Taiwan. Mereka mengabadikan kesempatan langka ini sebagai momen hidup dari Kota Lama Surabaya.

Dari pengamatan media ini (Rajapatni.com), ternyata keindahan Kota Lama Surabaya tidak hanya terletak pada bangunan kolonialnya. Atraksi budaya seperti Sinau Aksara Jawa juga menarik perhatian pengunjung. Oleh karena itu, di kawasan Kota Lama ini perlu terus diciptakan atraksi budaya yang dapat menjadi daya tarik wisatawan. Kota Lama telah menjadi panggung terbuka untuk berekspresi seni dan budaya.

Baca Juga :  Semarakkan Wisata Kota Lama Surabaya, A Hermas Thony Impikan Revitalisasi 'Jembatan Angkat' Petekan

Oleh karena itu, warga kota Surabaya harus lebih kreatif dalam mengisi panggung terbuka Kota Lama Surabaya. Kota Lama Surabaya harus dimanfaatkan dengan baik oleh publik Surabaya untuk karya-karya kreatifnya agar terus dikunjungi wisatawan baik lokal, nusantara, hingga mancanegara. (dk/Nanang)

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *