Masyarakat Suku Osing Menggelar Selamatan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren Banyuwangi

BUDAYA, DAERAH541 Dilihat

Diagram Kota Banyuwangi –  Masyarakat Suku Osing Desa Kemiren, yang terletak di Kecamatan Glagah, Banyuwangi, mengadakan acara selamatan tumpeng sewu, yang merupakan ritual bersih desa yang sangat penting bagi warga setempat.

Acara ritual ini diadakan pada hari Minggu, 9 Juni 2024, dan menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Sejak sore, warga menggelar tikar di depan rumahnya masing-masing, sembari menyiapkan menu khas pecel pitik untuk persiapan tradisi ini.

Acara selamatan ini dimulai dengan tradisi mepe kasur, di mana warga mengjemur tempat tidur mereka di sepanjang jalan desa. Tempat tidur mereka, yang berwarna merah dan hitam, menambah daya tarik ŕitual dan memberikan suasana yang unik bagi pengunjung.

Baca Juga :  Mengapa Masyarakat Berpendidikan Tinggi Juga Rentan Terhadap Penipuan Keuangan Ilegal

Pada pukul 17:00 WIB, jalan menuju desa ditutup, dan ritual tumpeng sewu dimulai. Acara ritual ini dimulai dengan arak-arak barong, yang menambah suasana yang meriah dan penuh semangat.

Tetua adat desa, Adi Purwadi, mengatakan bahwa ritual tumpeng sewu adalah cara bagi warga desa untuk mengungkapkan rasa syukurnya atas rejeki yang diberikan Tuhan selama satu tahun.

“Ini merupakan ungapan rasa syukur warga, kita atas rejeki yang sudah dilimpahkan selama 1 tahun, sekaligus media bersih desa bagi warga Kemiren,” Adi Purwadi, Minggu (9/6/2024).

Selama acara kegiatan ritual, panitia menyalakan obor di sepanjang jalan desa, yang diyakini dapat menjauhkan masyarakat desa dari bencana dan penyakit.

Baca Juga :  Kadin Kota Surabaya Desak Optimalisasi Sosialisasi Sertifikasi Halal

Dalam ritual ini setiap rumah warga Osing di Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang ditempatkan di depan rumah mereka. Siapapun dapat makan bersama warga dan gratis, membuat acara ini menjadi acara yang inklusif dan menyenangkan bagi semua orang.

Acara selamatan tumpeng sewu di Desa Kemiren adalah acara yang penuh semangat dan penuh makna yang menggabungkan tradisi dan kebersihan. Ini adalah cara bagi warga desa untuk bersatu dan mengungkapkan rasa syukurnya atas rejeki yang diberikan Tuhan.

Juga merupakan cara bagi mereka untuk menjauhkan dari bencana dan penyakit. Festival ini adalah pengingat yang kuat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan menghargai rejeki yang kita miliki. (dk/agus.h)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *