Legenda Asal-usul Pulau Dewata dan Suku Bali

BUDAYA, Sejarah730 Dilihat

Diagram Kota Denpasar – Setiap pulau di Indonesia menyimpan keunikan asal-usul, budaya, dan sukunya masing-masing. Salah satu pulau yang mempunyai beragam keunikan adalah Bali.

Bali, sebuah pulau yang terletak di antara Jawa dan Lombok, adalah sebuah wilayah yang kaya akan sejarah, budaya, dan warisan. Pulau ini, yang terkenal dengan pantai yang indah, seni dan kerajinan yang kaya, dan festival budaya yang penuh semangat, menarik ribuan wisatawan setiap tahun.

Namun, masih banyak orang yang belum tahu tentang sejarah Pulau Bali. Maka dari itu, berikut adalah sejarah termasuk asal-usul, budaya, suku Bali yang dilansir dan dirangkum dari berbagai sumber.

Legenda Asal-usul Bali: Sebuah cerita mengatakan Pulau Bali pernah menyatu dengan Jawa. Menurut kitab Babad Bali, Pulau Dewata berpisah dengan Tanah Jawa karena seorang brahmana Sidhi Mantra bermeditasi sehingga memisahkan keduanya.

Sidhi Mantra berasal dari Kerajaan Daha di Kediri, Jawa Timur. Ia memiliki putra bernama Manik Angkeran. Namun putranya ini sangat suka berjudi sehingga memiliki banyak utang. Suatu saat, ia tak mampu membayar utang sehingga meminta bantuan kepada sang ayah, Sidhi Mantra.

Sidhi Mantra kemudian pergi ke Gunung Agung untuk meminta bantuan Naga Basuki. Sesampainya di sana, ia membunyikan genta untuk membangunkan Naga Basuki. Kemudian sang naga membantu Sidhi Mantra dengan memberinya beberapa keping emas.

Setelah itu, Manik Angkeran kemudian menggunakan keping emas yang dimiliki sang ayah untuk membayar utang-utangnya. Namun setelah kejadian tersebut, Manik masih saja berjudi.

Pada suatu hari, tanpa sepengetahuan Sidhi Mantra, Manik mengikuti dan mengetahui sang ayah bertemu dengan Naga Basuki. Pada suatu malam, Manik menyelinap ke kamar ayahnya ketika sedang tertidur dan mengambil genta.

Sesampainya di Gunung Agung, ia membunyikan genta seperti yang dilakukan ayahnya untuk membangunkan Naga Basuki. Sosok naga yang bermahkotakan intan dan bertahtakan emas membuat Manik terkejut. Sifat buruk Manik muncul saat melihat kilauan emas itu.

Saat Naga Basuki lengah, ia memotong ekor sang Naga dan segera berlari. Kejadian itu membuat Naga Basuki menjadi marah dan menyemburkan api ke arah Manik Angkeran sehingga meninggal.

Setelah mengetahuinya, Sidhi Mantra meminta maaf kepada Naga Basuki dan meminta menghidupkan Manik Angkeran lagi. Naga Basuki memenuhi permintaan tersebut asal ekornya dikembalikan. Setelah itu Sidhi Mantra setuju dan Manik Angkeran hidup kembali.

Setelah itu, Sidhi Mantra menyerahkan Manik Angkeran kepada Naga Basuki untuk mengabdi. Sidhi Mantra kembali ke Daha dan Manik Angkeran dibiarkan menetap di Gunung Agung. Sesampai di Genting, Sidhi Mantra berpikir supaya Manik Angkeran tidak kembali ke Daha untuk berjudi lagi.

Akhirnya, setelah meditasi yoga selesai, Sidhi Mantra menggoreskan tongkatnya ke tanah. Tempat meditasi Sidhi Mantra di Tanah Genting berubah menjadi perairan yang sekarang dikenal sebagai Pura Segara Rupek di Buleleng.

Pura ini hanya berjarak dua kilometer dari Pulau Jawa. Namun, sampai saat ini, keturunan Manik Angkeran masih bertanggung jawab sebagai pemangku adat Pura Besakih di kaki Gunung Agung.

Kebudayaan Bali; Kebudayaan di Bali banyak terpengaruh oleh kedatangan agama Hindu-Buddha dari India pada abad ke-1 Masehi. Kedatangan ini membawa pengaruh yang berdampak terhadap kebudayaan di Bali saat ini.

Maka dari itu, Bali juga dikenal sebagai pulau sakral. Hal ini disebabkan karena mayoritas masyarakat beragama Hindu yang memiliki karakteristik tersendiri. Seperti diketahui, setiap sudut di Bali terdapat pura atau tempat persembahan dan ada banyak macam upacara adat yang kaya makna.

Tak hanya itu, kebudayaan masyarakat Bali terkenal karena seni tari, seni pertunjukan, dan seni ukir. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menari, memahat, melukis, bermain alat musik, dan bermain lakon kebudayaan tradisional.

Suku Bali: Sebuah sumber mengatakan suku Bali berasal dari tiga gelombang migrasi. Pertama, terjadi setelah orang menyebar di Nusantara pada zaman prasejarah. Gelombang kedua, terjadi setelah agama Hindu berkembang di Nusantara. Gelombang ketiga berasal dari Jawa ketika Majapahit runtuh.

Sebagian besar suku Bali memeluk kepercayaan Hindu Siwa-Buddha, salah satu denominasi Agama Hindu. Ini dimulai ketika pendeta India membawa literatur Hindu-Buddha ke Bali di Nusantara. Sebelum gelombang ketiga, suku Bali sebagian besar menganut animisme, mereka dikenal sebagai Bali Aga. (dk/niluh ishanori)

*Artikel ini ini dikutip diagramkota.com dari tulisan Rio Raga Sakti, peserta Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *