Warga Desa mindi Porong, Tetap Laksanakan Tradisi Ziarah Meski Makam Terendam Lumpur Lapindo

DAERAH745 Dilihat

Diagram kota Sidoarjo – Menyambut bulan suci Ramadan, warga Porong dengan tegar melaksanakan tradisi ziarah ke makam leluhur di atas tanggul lumpur Lapindo. Meskipun makam telah terendam oleh lumpur sejak 2006, tradisi ini tetap dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

 

Ahmad Syadiq, salah satu warga, menegaskan bahwa ziarah ke makam di Desa Mindi yang kini terendam lumpur Lapindo telah menjadi bagian dari rutinitas tahunan menjelang bulan puasa. Meskipun tidak dapat melihat fisik makam, mereka tetap memanjatkan doa dengan penuh kesungguhan.

 

“Ini saya ziarah ke makam kakak saya, ada buyut, orang tua, dan kakek nenek saya, semuanya,” ujarnya dengan tulus.

 

Muhammad Syafi’i, warga eks Desa Mindi lainnya, juga memastikan bahwa dirinya secara rutin melakukan ziarah di atas tanggul tersebut. Baginya, meskipun makam keluarganya terendam oleh lumpur, tetap ada rasa penghormatan dan kenangan yang memotivasinya untuk kembali setiap tahun.

Baca Juga :  Sebanyak 3.643 Personel Gabungan Dikerahkan di Sekitar Kawasan Monas

 

“Dulu saya warga Desa Mindi aslinya dan makam keluarga saya ada di sini,” ungkapnya sambil menunjukkan arah lumpur.

Eks warga mindi porong usai ziarah kubur di atas tanggul (foto : Achmad Adi Nurcahya/Diagram kota)

Tradisi ziarah ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga dan merawat akar budaya serta sejarah keluarga di tengah-tengah bencana alam yang melanda. Meskipun badai telah merenggut banyak hal, tetap ada keteguhan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur.

 

Meskipun terendam oleh lumpur sejak tragedi Lapindo pada tahun 2006, tradisi ziarah ke makam leluhur di Desa Mindi, Porong, tetap dilaksanakan dengan penuh ketulusan oleh warga setempat. Dalam menyambut bulan suci Ramadan, warga Porong menunjukkan keberanian dan kesetiaan mereka terhadap nilai-nilai leluhur dan akar budaya yang telah mereka anut selama berabad-abad.

Baca Juga :  Penerbangan di Rute Jember-Sumenep Selama Libur Lebaran 2024 Penuh Penumpang

 

Ahmad Syadiq, salah satu tokoh masyarakat, menjelaskan bahwa tradisi ziarah ke makam yang terendam lumpur Lapindo telah menjadi rutinitas tahunan bagi mereka. Meskipun tidak dapat melihat fisik makam, doa dan penghormatan tetap dipanjatkan sebagai ungkapan rasa hormat dan cinta kepada leluhur.

 

Demikian pula, Muhammad Syafi’i, warga eks Desa Mindi, secara konsisten melaksanakan ziarah di atas tanggul lumpur tersebut. Baginya, meskipun makam keluarganya terendam oleh lumpur, rasa penghormatan dan kenangan yang terukir dalam hati mendorongnya untuk kembali setiap tahun.

 

Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan upaya untuk menjaga dan merawat warisan budaya dan sejarah keluarga di tengah-tengah bencana alam yang melanda. Meskipun badai telah merenggut banyak hal, tetap ada keteguhan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan dan kearifan lokal

Baca Juga :  Merawat Bersama Kebudayaan Melalui Adeging Mangkunegaran ke-267

 

Dengan langkah tegar dan penuh kebersamaan, warga Porong terus melanjutkan tradisi ziarah ke makam terendam lumpur Lapindo, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan semangat untuk tetap tegar di tengah cobaan.(Dk/di)

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *