Belajar Tentang Bencana, Sejarah dan Kemanusiaan, Di konser “Kataklistik Budaya : Jawa Timur – Pertemuana Tiga Lempeng Dunia”

BUDAYA1084 Dilihat

Diagram Kota Surabaya – Sabtu malam, 16 September 2023 di Surabaya. Cuaca sedang cerah dan kota Pahlawan ini sedang dihibur tiga event musik. Sparkling Kalimas Jazz menghadirkan musik jazz di empat titik panggung di tepi Kali Mas. Salah satu yang tampil di Sparkling Kalimas Jazz adalah sang diva Bossas, Ermy Kullit. Di waktu yang sama ribuan remaja Gen-Z memenuhi Jatim Expo di kawasan Wonocolo, selatan Surabaya. Di tempat yang dulu di tahun 1930-an adalah lokasi pabrik kulit Wonocolo tersebut, digelar De Poppin’ Rhythm Festival. Deretan musisi edgy panutan Gen-Z, mengisi festival itu, antara lain Reality Club, Sal Priadi, Nadin Amizah – yang baru merilis single “Tawa” – dan sang pujangga milenial, Hindia.

Di tengah riuh gig musik di berbagai tempat, saya datang ke sebuah konser musik unik di Gedung Cak Durasim Surabaya. Unik, karena konser ini menampilkan kolaborasi musik prog rock,orasi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, efek visual serta performance art. Lirik-lirik dalam lagu yang ditampilkan juga unik, karena banyak mengambil idiom-idiom dalam ilmu geologi.

Seorang geolog sans musisi

Adalah Dr. Ir. Andang Bachtiar, M.Sc, musisi yang juga ahli geologi lulusan Teknik Geologi ITB inilah sosok sentral dalam konser yang bertajuk “Kataklistik Budaya : Jawa Timur – Pertemuan Tiga Lempeng Dunia”. Dalam konser ini Andang Bachtiar berupaya menyampaikan pentingnya pemahaman geologi (termasuk bencana alam) dalam konteks kebudayaan dan kehidupan masyarakat melalui musik. Dalam lingkup dunia sejarah, Andang Bachtiar terlibat dalam banyak riset, antara lain penelitian Situs Gunung Padang dan penelitian bencana alam di masa lalu yang banyak menghancurkan pusat-pusat peradaban.

Andang Bachtiar sendiri menyebut konsernya ini sebagai “konser musik Geopuisilosofi”. Mengapa pula propinsi Jawa Timur dipilih menjadi tema konsernya ? “Saya lahir di Jawa Timur, lahir di Malang, SD hingga SMA saya tinggal di Malang, saya lulusan SMA Negeri 3 Malang.” ujar Andang Bachtiar, “saya ingin konser penuh pertama saya diadakan di propinsi tempat saya lahir.” tambahnya. Selain alasan personal, dari sudut ilmu geologi, Jawa Timur adalah lokasi bertemunya tiga lempeng dunia, “Jawa Timur itu tempat bertemunya tiga lempeng, Lempeng India-Australia, Lempeng Eurasia dan Pasifik. Banyak situs bersejarah di Jawa Timur rusak atau hancur karena gempa bumi atau letusan gunung.” imbuh Andang Bachtiar.

Baca Juga :  Masyarakat Suku Osing Menggelar Selamatan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren Banyuwangi

Lagu-lagu di konser ini diambil dari dua album studio yang telah dirilis Andang Bachtiar, Melembutkan Batu (2021) dan Mata Air Mata (2023). Jam menunjukan pukul 19.15 WIB, dan konser pun dimulai. Seorang narator membuka konser tersebut menjelaskan tujuan konser tersebut dan alur pertunjukannya. Konser ini akan dibagi menjadi tiga babak berdasarkan tiga lempeng dunia yang bertemu di Jawa Timur, yaitu Babak Lempeng India-Australia, Babak Lempeng Australia dan Babak Lempeng Pasifik.

Tak hanya musisi, beberapa ahli geologi dan geofisika menyampaikan orasi ilmu pengetahuan di jeda antara lagu. Para ilmuwan ini antara lain Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si (Geofisika ITS), Dr. Ir. Wahyudi, M.Sc (Kelautan ITS), Dr. Ir.Helmy Darjanto, M.T (Univ. Narotama) dan Ir. M. Haris Miftakhul Fajar, M.Eng (Geofisika ITS).

Lempeng Pasifik – ilmu dari batu

Babak Lempeng Pasifik dibuka dengan Belajar Dari Batu, lagu yang mengajak kita untuk belajar ilmu geologi untuk mengetahui karakter tanah tempat tinggal kita. Sedangkan dari sisi filosofis, manusia sebaiknya belajar menjadi batu dan air – dua elemen alam yang mudah dijumpai – untuk menjadi sabar dan tawakal. Diikuti kemudian dengan lagu Gempa Bumi dan Tsunami Disini Seperti Mati. Sebuah lagu bercorak lament, mengajak masyarakat untuk mempersiapkan infratruktur menghadapi bencana alam. Selanjutnya, komposisi bluesy Berjalan Ke Hulu, yang membawa pesan untuk menjaga sumber-sumber air yang vital bagi peradaban, sekaligus memiliki makna agar manusia tetap berpegang pada prinsip yang benar walau menghadapi banyak tantangan dan godaan.

Sebuah komposisi bergaya big band, Vulkanologi Rindu, menjadi lagu keempat di konser malam itu. Andang Bachtiar di lagu ini mengingatkan sangat vitalnya gunung berapi dalam kehidupan manusia melalui personifikasi birahi asmara sepasang manusia. Babak India-Australia ditutup dengan penampilan Paduan Suara Anak Kinaryosih dari Gereja Kristen Jawi Wetan, yang menghadirkan nuansa ambient dengan aransemen ulang dua lagu Andang Bachtiar, Belajar Dari Batu dan Lingkaran.

Baca Juga :  Masyarakat Suku Osing Menggelar Selamatan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren Banyuwangi

Babak Eurasia – ilmu, yang pasti dan yang spiritual

Babak Eurasia diawali dengan Belum Tahun Baru, lagu yang mengangkat fakta bahwa di masa lalu berkali-kali bencana alam – astronomis dan geologis – memusnahkan spesies-spesies yang pernah mendominasi bumi, antara lain Dinosaurus dan manusia purba. Andang Bachtiar juga mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap ilmu pengetahuan alam dalam lagu Tanpa Geologi (Dewa Ruci) yang juga berimbas pada kualitas spiritual manusia. Munculnya 4 penari dervish sufi mengiringi lagu Belajar Dari Rumi, sebuah komposisi dengan ketukan ala musik Turki, yang menekankan pentingnya kesadaran spiritual manusia kala menuntut ilmu dan bertahan hidup di dunia.

Andang Bachtiar membacakan sebuah orasi tribute pada Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Ia membacakan ulang pidato Bung Karno di hadapan pelajar Surakarta ada 26 Juli 1960. Dalam pidato itu, Bung Karno menekankan pentingnya bagi generasi muda menuntut ilmu agar meng-eksplorasi ilmu tentang negeri sendiri tanpa mengabdi ke doktrin ilmu pengetahuan bangsa Barat yang dipaksakan ke Indonesia dan negara-negara Dunia Ketiga lain.

Lagu berirama dinamis Cerdas Merdeka senada dengan pidato Bung Karno, bahwa bangsa Indonesia harus merdeka dalam berilmu, agar lebih bisa menguasai alam negerinya lebih baik. Babak Eurasia diakhiri dengan penampilan outre dari ITS Choir. Kelompok paduan suara mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini membawakan Benggong – lagu tradisional asal Manggarai – dan Sabar, Rek, lagu ciptaan Andang Bachtiar yang digubah ulang dengan kombinasi harmonisasi vokal dan koreografi bernuansa ethereal.

Babak Lempeng Pasifik – yang berilmu pun kembali ke Yang Maha Berilmu 

Lagu Bumi Manusia (Antiklin Bersayap) membuka Babak Lempeng Pasifik. Sebuah balada yang mengingatkan pentingnya mendengarkan suara ilmuwan geologi untuk kemaslahatan kehidupan manusia ke depan. Dalam lagu ini, Andang Bachtiar diiringi penampilan penari kontemporer Soul Esto. Berkostum serba putih dan topeng berwarna putih, penampilan guru seni di beberapa sekolah di Surabaya ini berlanjut ke lagu selanjutnya, Wajah-wajah Ruang Kesadaran dan Siklus Batuan. Sebuah nomor ethnic folk yang menjelaskan adanya proses perubahan batuan dan mineral dalam bumi. Proses perubahan yang mencerminkan perubahan proses hidup manusia, entah menjadi baik atau bahkan menjadi buruk.

Baca Juga :  Masyarakat Suku Osing Menggelar Selamatan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren Banyuwangi

Gemerincing gelang kaki penari dari tempat duduk penonton mengawali Aku Dadalam, sebuah ode spiritual tentang bagaimana segala daya dan upaya manusia dalam berjuang, bertahan hidup, berusaha – pada akhirnya akan kembali pada jalan yang sudah ditetapkan Tuhan Yang Maha Mengatur. Penari yang mengiringi lagu penutup Babak Lempeng Pasifik adalah seniman multi-talenta Ibu Swandayani, putri dari seniman legendaris Surabaya, Tedja Soeminar.

Konser pun ditutup dengan Andang Bachtiar membawakan ulang Belajar Dari Batu, yang dinyanyikan bersama seluruh musisi dan penampil dari konser ini. Selesai konser saya masih terkesan dengan muatan dan kompleksitas komposisi yang dimainkan oleh Andang Bachtiar Dan Penyelaras. “Ini bukan konser musik, ini sidang tesis ilmu geologi sambil nge-band” kata pelaku media radio dan publishing musik senior Ella Suud, yang ikut menonton saat itu. Konser “Kataklistik Budaya, Jawa Timur : Pertemuan Tiga Lempeng Dunia” juga menjadi penghibur, karena di malam itu tersebar kabar bahwa Museum Nasional Indonesia di Jakarta mengalami kebakaran dan banyak koleksinya terancam rusak.

Konser Kataklistik Budaya memberi banyak pesan bahwa ilmu geologi sangat penting untuk dipelajari dan disebarkan, terlebih negeri kita adalah bagian dari “Pacific Ring Of Fire” . Dari sudut pandang sejarah, tak terhitung fakta-fakta geologis tentang situs-situs sejarah dan pusat-pusat peradaban yang hancur karena bencana. Mulai dari patung raksasa Colossus Of Rhodes di Yunani hingga Situs Kumitir di Mojokerto, Jawa Timur, adalah bukti bahwa aktivitas geologi mampu menghancurkan setiap produk peradaban.

Pendekatan Andang Bachtiar melalui kesenian kolaboratif seperti konser Kataklistik Budaya adalah cara baru untuk membuat manusia sadar akan potensi, baik bahaya maupun keuntungan, dari tanah yang kita pijak, agar umat manusia menjadi semakin adaptatif ke depannya. (ev/dk)

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *