Penemu Ikan Mujair Ternyata Orang Blitar Jawa Timur.

DAERAH, Sejarah1732 Dilihat

Diagram Kota Blitar – Nama ikan mujair diambil dari nama penemunya yaitu Mbah Moedjair atau Pak Mujair yang bernama asli Iwan Dalauk. Ia lahir pada tahun 1890 – meninggal 7 September 1957, adalah seorang warga asli Blitar.

Mbah Moedjair lahir di Desa Kuningan, 3 km arah timur pusat Kota Blitar, Jawa Timur. Awalnya bekerja sebagai penjual sate. Namun, sayangnya usaha tersebut bangkrut, tidak ingin terlunta-lunta dengan nasib, Mbah Moedjair tirakat atau melakukan pantang atas usulan dari kepala desanya saat itu.

Dirangkum dari berbagai sumber, Mbah Moedjair adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, dari pasangan Bayan Isman dan Rubiyah. Moedjair kemudian menikah dengan gadis di desanya yang bernama Partimah. Dari pernikahan itu dia dikaruniai tujuh anak.

Dia merupakan sosok penemu dari spesies ikan yang kemudian diberi nama Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) jadi ikan air tawar yang paling mudah dijumpai dan paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Tapi siapa sangka, ternyata penemu ikan mujair merupakan seorang dengan latar belakang santri dari Blitar Selatan.

Baca Juga :  Ujicoba PPDB 2024 Dimulai, Dispendik Surabaya Siapkan 365 Posko untuk Orang Tua

Sosok Moedjair merupakan sosok yang bersahaja dan sangat mencintai dunia perikanan. Kisahnya menemukan ikan yang akhirnya diabadikan menggunakan namanya itu juga tak lepas dari ketekunannya membudidayakan ikan air tawar.

Moedjair tidak datang dengan latar belakang peneliti maupun akademisi. Disebutkan bahwa sosok ini menempuh pendidikan sebagai santri di pesantren milik Kyai Soleh di Kuningan, Kanigoro, Blitar. Ia belajar di sana kurang lebih tujuh tahun sejak 1910.

Pesantren itu punya banyak kolam yang memelihara ikan gurameh. Moedjair mulai berkenalan dengan budidaya ikan air tawar lewat kolam-kolam di pesantren itu. Selepas menimba ilmu di pesantren, Moedjair juga disebut pernah menjadi pedagang sate. Hal itu ia lakoni untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Selain berjualan sate, ia juga menjual cikar atau gerobak sapi. Hasil berjualan cikar ini kemudian digunakan untuk membeli sepetak tanah untuk dijadikan kolam. Moedjair kemudian melanjutkan hal yang sudah ia lakukan di pesantren, budidaya ikan gurameh.

Usahanya di desa Kuningan pada akhirnya mengalami kebangkrutan di era 30-an. Ia lalu pindah ke desa Papuangan dengan modal menjual tanah dan kolamnya. Di dekat tempat tinggal barunya, ia menggunakan sisa tabungannya untuk membeli sepetak tanah yang kemudian dibuatnya menjadi tiga petak kolam. Moedjair begitu mencintai dunia perikanan. Sehingga di mana pun ia tinggal, sebisa mungkin tak jauh-jauh dari kolam.

Baca Juga :  Walikota Eri Cahyadi Pantau Langsung Perbaikan Saluran Air di Jambangan

Suatu ketika, saat jelang perayaan tahun baru Islam, Moedjair dan warga desa hendak merayakan momen tersebut di Pantai Serang. Jarak pantai dengan desanya, sekitar empat puluh kilometer. Perjalanan itu ditempuh dengan berjalan kaki.

Mendekati pantai, tepatnya di muara Sungai Serang, Moedjair terbesit untuk mencari benih ikan. Benih tersebut ia harap bisa dibudidayakan di kolamnya.

Di sana, ia melihat ada beragam jenis ikan dan menangkapnya. Namun saat dibawa pulang, tidak ada satu pun yang bertahan saat coba dimasukkan ke kolam. Hasilnya nihil. Ikan dari air payau itu gagal beradaptasi di kolamnya.

Gagal dialami Moedjair. Namun kecintaan dan rasa penasaran membuatnya kembali ke muara sungai itu. Ia masih yakin bahwa ikan-ikannya mati karena stress, bukan karena gagal beradaptasi.

Baca Juga :  PT Metropolitan Golden Management Hotel Horison Aziza Solo Gelar Kegiatan Sosial

Moedjair kemudian kembali ditemani dua anaknya. Memikul wadah ikan dengan hati-hati. Barulah pada percobaan yang kesepuluh, Mudjair melihat ada dua jenis ikan yang tabiatnya berbeda dengan yang lain.

Setelah dipelihara di kolam ternyata ikan ini mampu bertahan. Penemuan ikan ini kemudian menggegerkan Blitar. Bukan hanya karena kemampuannya beradaptasi, namun juga karena mudahnya berkembang biak.

Ia pun diundang ke Surabaya untuk mengikuti konferensi ahli perikanan air tawar. Pada November 1939, ikan itu kemudian diberi nama mujair sesuai nama sang penemu.

Saat sampel ikan dibawa ke eropa, barulah diketahui bahwa ikan tersebut aslinya berasal dari Benua Afrika. Tepatnya dari Mozambik. Ditengarai, penemuan jenis ini di Blitar disebabkan perdagangan akuarium pada masa-masa sebelumnya.(dk/mahsus)

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *