FP-UWKS Gandeng PERHEPI gelar Seminar Nasional Dampak Alih Fungsi Lahan

Pendidikan645 Dilihat

Diagram Kota Surabaya – Magister Agribisnis dan Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya bekerja sama dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Komisariat Surabaya menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Strategi Mempertahankan Lahan Pertanian Dalam Mengatasi Krisis Pangan”, Selasa (22/11), di Bangsal Poncowaliko Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Acara dihadiri oleh 147 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan undangan.

Seminar dibuka oleh Rektor Universitas Wijaya Kusuma, Prof. Dr. H. Widodo Ario Kentjono, dr., Sp. T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K), FICS., pada pukul 09.00 WIB.

Seminar Nasional dengan tema “Strategi Mempertahankan Lahan Pertanian Dalam Mengatasi Krisis Pangan”, Selasa (22/11), di Bangsal Poncowaliko Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Acara ini menghadirkan Narasumber yang expert pada bidang tersebut, Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, MS (Ketua PERHEPI Pusat), Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP (Guru Besar Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jatim), Dr. Sujarwo, SP., MP (Sekretaris Jenderal PERHEPI), Dr. Ir. Markus Patiung, MP (Ketua PERHEPI Komisariat Surabaya) dan Associate Prof. Nugrahini S.W. M.Si (Ketua Prodi Magister Agribisnis FP-UWKS). Pelaksanaan acara ini merupakan media untuk menciptakan pola pikir yang objektif serta kesadaran untuk masyarakat luas terkait urgensi alih fungsi lahan pertanian.

Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Prof. Dr. H. Widodo Ario Kentjono, dr., Sp. T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K), FICS., mengemukakan, alih fungsi lahan pertanian yang tidak terkendali dapat mengancam kapasitas penyediaan pangan, bahkan dalam jangka panjang dapat menciptakan krisis pangan. Isu alih fungsi lahan menjadi tantangan bagi eksistensi ketahanan pangan tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global.

Baca Juga :  Harumkan Nama Kampus, UWKS Berikan Beasiswa Prestasi kepada Atlitnya

Seminar ini juga merupakan media desiminasi hasil-hasil penelitian dari Prodi Agribisnis dan Magister Agribisnis Fakultas Pertanian UWKS dan universitas – universitas nasional lainnya.

Seminar nasional ini juga menampilkan penyajian 20 makalah yang berasal dari beberapa universitas nasional di antaranya Universitas Brawijaya, Universitas Trunojoyo Madura, UPN Veteran Jatim, Universitas Mulawarman, dan Universitas Panca Marga Probolinggo.

Di samping itu Seminar Nasional ini mengundang Seluruh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian di Jawa Timur, PERHEPI Jawa Timur, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Jatim, Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, serta dihadiri oleh rekanan Universitas Wijaya Putra Surabaya dan Universitas Islam Raden Rahmat Malang.

Ketua Panitia Seminar Nasional “Strategi Mempertahankan Lahan Pertanian Dalam Mengatasi Krisis Pangan”, Dr. Ir. Markus Patiung., MP menyampaikan, acara ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap perubahan spesifik dari penggunaan lahan untuk pertanian ke pemanfaatan bagi non-pertanian yang dikenal sebagai alih fungsi (konversi) lahan, yang semakin hari semakin meningkat.

Sebagai Ketua PERHEPI Komisariat Surabaya sekaligus Dosen di FP-UWKS Dr. Ir. Markus Patiung., MP mengharapkan diskusi dan seminar hari ini akan menemukan solusi terkait alih fungsi lahan dan ancaman krisis pangan.

Baca Juga :  Wisuda Semester Gasal, Rektor UWKS Tetapkan 8 Mahasiwa Terbaik

“Alih fungsi lahan sesungguhnya bukan fenomena baru dalam kehidupan manusia. Alih fungsi lahan dianggap menjadi persoalan besar ketika berakibat pada kerusakan lingkungan dan menyentuh persoalan keberlangsungan hidup manusia terkait dengan pembangunan untuk menunjang peradaban baru manusia, ” Ucap Markus mengawali paparan materinya.

“Sejalan dengan pertumbuhan populasi, penguasaan dan penggunaan lahan menjadi terganggu dan mulai dianggap bermasalah. Hal ini memunculkan kompleksitas permasalahan akibat meledaknya pertambahan penduduk, penemuan dan pemanfaatan teknologi, serta dinamika pembangunan. Lahan yang semula berfungsi sebagai media bercocok tanam (pertanian), perlahan berubah menjadi multifungsi pemanfaatan, ” Terangnya.

Perubahan spesifik dari penggunaan untuk pertanian ke pemanfaatan bagi non-pertanian yang dikenal sebagai alih fungsi lahan, semakin hari semakin meninggi.

“Jika alih fungsi lahan pertanian ini tidak terkendali dapat mengancam kapasitas penyediaan pangan, bahkan dalam jangka panjang dapat menciptakan krisis pangan. Isu alih fungsi lahan menjadi tantangan bagi eksistensi ketahanan pangan tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global, ” Katanya.

Menurut Markus, seminar, diskusi, dan sharing ilmu pengetahuan seperti ini selalu memainkan peranan penting dalam perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Terutama mengusung tema tentang strategi mempertahankan lahan pertanian dalam mengatasi krisis pangan.

Baca Juga :  454 Sarjana UWKS di Wisuda secara Luring

“Tema ini merupakan topik diskusi yang menarik untuk setiap orang, bukan saja para petani, pembuat kebijakan, dan ilmuan di bidang pertanian saja. Diskusi dan seminar seperti yang kita ikuti hari ini, akan sangat potensial untuk menggali kembali dan menemukan solusi terkait alih fungsi lahan dan ancaman krisis pangan, ” Paparnya.

Diakui atau tidak, lanjut Markus, lahan pertanian semakin berkurang seiring perjalanan masa. Keterbatasan lahan ini juga merupakan salah satu fokus diskusi penting untuk kita semua. Sehingga meskipun dengan lahan yang terbatas, kita tetap mampu mencapai kondisi ketahanan pangan yang lebih baik di masa mendatang.

Diskusi ini menuntut keterlibatan banyak pihak. Di satu sisi, kita ingin menciptakan pemukiman, pertumbuhan ekonomi yang layak untuk penduduk yang semakin bertambah, di sisi lain kita juga mengharapkan mempertahankan ketersediaan lahan untuk pertanian, dan memperhatikan system keberlanjutan.

“Oleh karena itulah, menurut saya, seminar ini sangat penting. Dan Saya memberi apresiasi kepada panitia penyelenggara seminar ini, ” Terang Markus

Berpijak pada semua pemaparannya, Markus berharap bahwa seminar ini akan mampu menghasilkan beberapa rekomendasi positif, untuk menunjang terciptanya strategi untuk mencegah alih fungsi lahan pertanian di Indonesia, terutama melalui sistem pengelolaan lahan yang lebih efektif dan efisien, dengan tetap memperhatikan system keberlanjutan. (dk/akha)

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *