Filosofi Ingkung Bagi Masyarakat Jawa.

BUDAYA1500 Dilihat

Diagram Kota Surabaya – Dalam  tradisi Jawa  ketika  mengadakan selamatan (kenduri) baik kematian atau hajatan lain sering menggunakan Ingkung. Yaitu ayam utuh yang dibentuk seperti posisi wanita duduk timpuh atau seperti posisi orang sedang duduk pada saat shalat.

Bentuk semacam ini menggambarkan sikap orang yang sedang manekung (bersemadi). Hal ini sesuai dengan makna kata ingkung yang berasal dari kata ing (ingsun) dan kung (manekung). Kata ingsun berarti aku dan kata manekung berarti berdoa dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ingkung merupakan perwujudan sikap ahli waris yang dengan sungguh-sungguh memohon doa agar anggota keluarganya yang telah meninggal diampuni segala dosa-dosanya dan mendapatkan tempat yang semestinya.

Ayam jago atau jantan yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi kaldu santan yang kental merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge’reh’ rasa).

Ayam utuh atau ingkung, memiliki filosofi yang cukup dalam, yakni manusia diharapkan dapat berperilaku seperti ayam. Karena seekor ayam jika diberi makan tidaklah langsung dimakan, namun dipilih dahulu mana yang baik dan mana yang tidak, maka manusia diharapakan mampu memilah mana hal baik yang harus dilakukan dan mana hal buruk yang harus di tinggalkan.

Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, diantaranya adalah sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu, menang, benar sendiri (berkokok), tidak setia, dan tidak perhatian dengan anak istri.

Orang yang laku manekung akan masuk ke alam Suwung  yang berarti kosong atau tiada apapun, itulah keheningan dalam meditasi, dzikir.

Orang yang kondisi suwung dia telah melepaskan diri dari ikatan tubuh dan belenggunya menuju dimensi ruh, sehingga dirinya mencapai fana’ dirinya sudah tidak ada, yang ada hanyalah Allah SWT. Dalam Serat Wedhatama diterangkan dalam pupuh pangkur bait ke 14 yang berbunyi :

“Sejatine Kang mangkana Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming  nga suwung, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira, mulane wong anom sami.”

Yang artinya: “Sebenarnya yang demikian itu sudah mendapat anugerah Tuhan. Kembali ke alam kosong, Tidak mabuk keduniawian yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal mula. Demikianlah yang terjadi wahai anak muda”.

Jadi seperti itulah sejarah dan filosofi asal mula adanya ayam ingkung yang selalu disajikan dengan ayam utuh dalam setiap nasi tumpeng di berbagai perayaan. Semoga ini bisa menambah wawasan para sahabat diagramkota.(dk/akha)

-Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber-

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *