Mengenal Ajaran Sunan Muria Cara Meruwat Bumi

Sejarah774 Dilihat

Diagram Kota – Salah satu anggota Wali Songo adalah Sunan Muria, beliau aktif mendakwahkan Islam di Tanah Jawa, tepatnya di Gunung Muria. Lokasi dakwah Sunan Muria saat ini masuk dalam wilayah Desa Colo, Kecamatan Gawe, Kudus, Jawa Tengah. Di desa ini pula makam Sunan Muria berada.

Nama Muria yang disematkan dalam Sunan Muria dan diabadikan dalam Gunung Muria konon tidak bisa dipisahkan dari nama Kudus. Diketahui, Kudus merujuk pada Al-Quds atau Baitul Maqdis di Palestina. Sementara Muria merujuk pada Bukit Moriah yang ada di Yerussalem.

Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan istrinya Dewi Saroh yang merupakan putri dari Syekh Maulanan Ishaq. Nama kecil Sunan Muria adalah Umar Said. Karena mewariskan darah bangsawan Tuban dari Sunan Kalijaga, maka dia lebih dikenal dengan nama Raden Umar Said.

Terkait nama ini, ada beberapa riwayat yang menyebutkan nama-nama Sunan Muria pada masa kecil. Selain Umar Said, Sunan Muria juga disebut bernama Raden Prawoto hingga Raden Amir. Ketika memasuki usia dewasa, Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah putri Sunan Ngudung.

Dewi Sujinah adalah adik Sunan Kudus, sehingga Sunan Muria adalah adik ipar pendiri Panti Kudus itu. Dalam keterangan lain, Sunan Muria disebut juga memiliki istri bernama Dewi Roro Noyorono, yang merupakn putri dari Ki Ageng Ngerang.

Dalam mendakwahkan Islam, Sunan Muria memilih tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Dia memimlih bukit di utara Kudus yang sekarang dikenal dengan Gunung Muria. Berada membaur dengan alam membuat Sunan Muria sangat perhatian terhadap kelestarian lingkungan.

Maka tak heran jika kemudian Sunan Muria dikenal sebagai wali yang mengajarkan untuk meruwat bumi atau merawat bumi. Terkait hal ini, Maryono Widi (2014) bahkan menulis buku khusus yang menjelaskan terkait kepedulian Sunan Muria terhadap isu lingkungan.

Buku itu bernama Napak Jejak Pemikiran Sunan Muria: Dari Ekoreliji hingga Akidah Muttahidah. Upaya Sunan Muria dalam melestarikan lingkungan dapat dilihat dari simbol-simbol yang ada di sekitar lokasi makamnya. Simbol-simbol ini dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.

Beberapa ajaran Sunan Muria dalam meruwat bumi antara lain melalui tradisi Guyang Cekathak, buah Parijoto, hingga tembang macapat Sinom Parijoto.

1. Guyang Cekathak : Guyang Cekathak merupakan tradisi meminta hujan. Tradisi ini dikenal dengan mencuci (guyang) pelana kuda milik Sunan Muria. Ritual ini biasa dilakukan pada hari Jumat Wage di musim kemarau, sekitar bulan Agustus-September. Guyang Cekathak digelar di dekat Sendang Rejoso. Hujan yang diminta dalam ritual ini bertujuan agar air dari Sendang Rejoso ini tidak kering. Benar saja, hingga saat ini Sendang Rejoso selalu mengalirkan air dan tidak pernah kering meski pada musim kemarau panjang.

2. Buah Parijoto : Buah Parijoto menjadi salah satu oleh-oleh khas jika berziarah ke makam Sunan Muria. Konon, buah ini sudah dikonsumsi sejak Sunan Muria masih hidup. Bahkan Sunan Muria menganjurkan agar wanita hamil memakan buah Parijoto.
Dengan memakan buah itu, diharapkan bayi yang lahir jika laki-laki akan berparas tampan, dan jika perempuan berparas cantik. Seiring perkembangan zaman, semakin terungkap bahwa buah Parijoto memiliki khasiat yang luar biasa untuk kesehatan.

3. Tembang Macapat Sinom Parijotho : Tembang macapat merupakan salah satu bentuk kesusastraan Jawa yang syair atau lagu. Tembang macapat biasanya melambangkan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga menghembuskan nafas terakhir.
Tembang Macapat Sinom Parijotho ini merupakan tembang ciptaan Sunan Muria yang memiliki makna yang sangat mendalam. Sama seperti buah Parijoto, tembang macapat ini juga dianjurkan untuk diperdengarkan kepada wanita yang sedang hamil, dan yang sulit mendapat momongan.
Tembang macapat Sinom Parijotho berisi pengingat bagi masyarakat Jawa agar menjadi sosok yang mampu meredam hawa nafsu dan membangun cinta kasih kepada sesama. (dk/akha)
Sumber : Repository.iainkudus.ac.id

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar