oleh

Peringati Hari Santri, Ketua DPC PDI Perjuangan : Perkuat Sinergi Dengan Santri

Diagram Kota Surabaya – Lantunan sholawat yang dilanjutkan mars syubbanul wathan bergema dari dalam kantor DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Suara rebana yang saling bersahutan mengiringi sholawat yang dilantunkan oleh kelompok hadiah Miftahul Jannah dari Tambak Asri. Rabu malam (20/10), partai berlambang banteng moncong putih itu sedang menggelar diskusi virtual dalam rangka memeringati Hari Santri Nasional (HSN).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir secara daring (dalam jarigan) dalam peringatan HSN. Juga, Ketua PC NU Kota Surabaya Muhibbin Zuhri juga hadir secara virtual. Termasuk akademisi Universitas Airlangga (Unair) Listyono Santoso juga ikut dalam forum tersebut secara online.

Jajaran pengurus partai mengikuti kegiatan secara langsung dari kantor DPC PDI Perjuangan di Jalan Setail nomor 8. Antara lain, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono, Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak Dyah Katarina, Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga Abdul Ghoni Mukhlas Ni’am, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Anas Karno, Wakil Ketua Bidang Kehormatan Sjukur Awaludin, Bendahara Partai Taroe Sasmito, dan Wakil Sekretaris Partai Achmad Hidayat.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono menyampaikan rasa syukur karena HSN tahun ini jatuh ketika pandemi Covid-19 sudah dalam posisi membaik. “Senin (18/10) kemarin pemerintah pusat sudah memutuskan bahwa Surabaya sudah masuk PPKM Level 1 sehingga program pemulihan ekonomi bisa dijalankan dengan baik oleh wali kota dan wakil wali kota,” ujarnya.

Baca Juga  Selamatan Sedekah Bumi Ketua DPRD Surabaya: Kita  Nguri-Uri Budaya dan Adat Istiadat

Adi secara khusus ingin mendorong terjadinya sinergitas antara PDI Perjuangan dengan santri. Sebab, kader banteng dan santri memiliki ideologi yang sama. Santri mewarisi karakter seorang pejuang. “PDI Perjuangan merupakan wadah perjaungan masyarakat,” tuturnya.

Menurut Adi, banyak pengurus, bahkan anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan yang juga seorang santri. Karena itu, Adi yang juga menjabat Ketua DPRD Kota Surabaya mengajak kaum santri untuk berjuang bersama-sama untuk kebaikan Kota Surabaya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebut perjuangan santri tidak bisa dilupakan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tepat tanggal 22 Oktober 76 tahun yang lalu, tentara sekutu kembali ke tanah air untuk merebut kembali kemerdekaan yang sudah diproklamasikan presiden Soekarno 17 Agustus 1945. “Di situlah perjuangan santri tercatat ketika para ulama menyuarakan resolusi jihad,” terangnya.

Para ulama bersama barisan santri se-Jawa dan Madura berjuang mempertahankan kemerdekaan yang sudah berlandaskan pancasila. “Dan ini sama persis dengan ideologi PDI Perjuangan. Selaras dengan PDI Perjuangan yang juga berjuang mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia hari ini,” paparnya.

Baca Juga  Sapa Warga Wasek PDIP Surabaya, Warga Sambut Antusias Beasiswa SMA/SMK Pemkot Surabaya

Kata Eri, santri selalu hadir ketika masa krisis. Dulu, ketika terjadi krisis kemerdekaan, santri berada di garda paling depan. Sekarang, ketika negara sedang mengalami krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi Covid-19, santri juga hadir membantu masyarakat.

“Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, mari berjuang bersama-sama, PDI Perjuangan harus bersinergi dengan kaum santri untuk ikut andil menghadapi pandemi Covid-19. Berjuang bersama agar Surabaya bisa menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur,” terangnya.

Akademisi Unair Listyono menceritakan bagaimana perjuangan para santri dan ulama dalam catatan sejarah. Dimulai dari perjuangan kerajaan islam yang berjuang mengusir Portugis dari Selat Malaka, sampai pergerakan organisasi massa (Ormas) islam yang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mulai Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, sampai Sarekat Islam.

Jejak santri dalam sejarahnya sudah terbukti. Nah, di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, santri diberi penghargaan yang luar biasa. “Dengan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, itu merupakan apresiasi yang luar biasa,” kata Listiyono.

Sebab, lanjut dia, peristiwa 10 Nopember 1945 belum tentu terjadi jika tidak ada peristiwa 22 Oktober di tahun yang sama. Tidak hanya penetapan hari santri, Presiden Joko Widodo juga memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap pesantren dengan mengesahkan UU nomor 18 tahun 2019 yang ditindaklanjuti dengan peraturan presiden (Perpres) nomor 82 tahun 2021 tentang penyelenggaraan pesantren. “Negara memberikan apresiasi bahwa negara ini tidak bisa berdiri tanpa peran para santri,” papar mantan aktivis PMII itu.

Baca Juga  Ganyang Habis Covid-19, Eri Cahyadi Gencarkan Vaksinasi Massal

Sementara itu, Ketua PC NU Kota Surabaya Muhibbin Zuhri menilai dalam penanganan pandemi santri juga ikut mengambil peran. Mulai memberikan bantuan kepada warga terdampak hingga membantu memulihkan ekonomi dari bawah. “Pemerintah kota juga masif melakukan intervensi sehingga di bawah kepemimpinan pak Eri ini PPKM di Surabaya bisa menjadi level 1,” ucapnya.

Menurut Muhibbin, definisi santri tidak hanya sebatas orang yang belajar di pesantren. Santi merupakan warga yang taat menjalankan agama. Juga, memiliki komitmen yang kuat dalam menjaga kedaulatan bangsa. “Karena itu, santri bisa siapa saja. Yang jelas, santri harus memiliki wawasan kebangsaan yang kuat untuk menjaga keutuhan bangsa,” jelas ulama yang juga dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNISA) Surabaya itu. (dk/dms)

Share and Enjoy !

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.